Rencanakan Hidupmu, Juga Matimu

Buat pencinta lari seperti Saya, lari bukan sekedar pembuka hari. Melainkan semacam ritual suci yang menentukan bagaimana jam-jam berikutnya terlewati.

Ada dua jenis lari yang biasa Saya lakukan. Lari singkat, yang biasanya tidak lebih dari 3KM. Dan lari jauh yang batas bawahnya adalah 8KM. Saya agak malas lari jarak menengah antara 3-8KM karna nanggung.

Kalau lari singkat, Saya cuma perlu pakai sepatu dan ngantongin gadget buat ngukur jarak & performa pakai aplikasi Nike+ Run Club. Rute rutin sih biasanya cuma muterin Sampangan (Jl.Menoreh Raya – Jl.Lamongan Raya – Jl. Menoreh I) yang lintasannya sekitar 2,5KM.

Tapi kalau lari jauh, perlengkapannya agak lebih ribet: celana khusus, stocking panjang, uang buat beli minum, kaos dan earphone  khusus lari.
Saya punya satu celana pendek favorit yang selalu dipakai waktu event lari. Celananya biasa saja, cuma dibandingkan celana lari yang lain, yang satu ini ada kantongnya, jadi bisa dipakai buat ngantongin receh dan gadget. Saya sudah tidak pakai armband lagi semenjak iPhone hilang, dan hape yang sekarang dipakai ukurannya sedikit lebih besar dari iPhone jadi kurang pas di armband-nya iPhone.
Dan stocking panjang murah meriah buat nutupin lutut biar lebih syar’i.

Pagi ini, Minggu pagi. Saat ini semestinya Saya sudah di jalanan meletakkan kaki yang satu di depan kaki yang lain secara bergantian. Tapi semuanya berubah setelah selepas subuh tadi dapat kabar di WhatsApp bahwa satu teman angkatan semasa kuliah, RI, tadi malam meninggal. Bukan sekedar teman, tapi juga saudara seperngajian. Apalagi istrinya juga adik kelas satu jurusan yang juga lumayan karib.
Semangat lari-pun “lari” jauh entah kemana.

Sisi “drama”-nya adalah, bahwa kematiannya sudah ” direncanakan”.
Kami, teman-teman dekat almarhum yang satu group WA, sudah tahu bahwa beberapa hari terakhir RI sudah kritis karena tumor di otaknya sudah mengganas. Sudah dilakukan operasi namun tidak membawa perubahan signifikan. Dari akun WA RI yang dipegang oleh adiknya, kami selalu dapat update tiap hari. Kemarin, dikabarkan bahwa dokter sudah “menyerah” dan keluarga sudah pasrah. Sementara kami masih terus mengirimkan do’a dan harapan masih dijaga.
Tapi memang masih ada yang “menahan”. Yaitu kedatangan istri dan anak RI pulang ke tanah air. Karena istri RI bekerja di Italia dan dikabarkan akan sampai di Indonesia sekitar jam 10 tadi malam.
Hingga akhirnya, RI menghembuskan nafas terakhirnya jam 10-an juga.

[tagline]Innalillahi wa innailahi raji’un…[/tagline]

Kematian memang nasihat paling berharga. Semua apa yang kita usahakan di dunia tak ada artinya karna tak mungkin dibawa, kecuali 3 hal saja: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak shaleh.

Hidup ini seolah marathon, bukan sprint. Sejauh apapun larimu, suatu saat akan kau gantung juga sepatumu.

Mengingat mati, justru membuat hidup jadi lebih “hidup”. Jadi, mari kita merencanakan kehidupan dan mempersiapkan kematian.

Tentang Resolusi Tahun Baru

Hari terakhir di 2015.

Trending topic menjelang tahun baru biasanya dan bisa dipastikan adalah: RESOLUSI. Kalau kamu gak ikut-ikutan tren ini, kemungkinannya hanya dua: sudah cukup bosan dengan resolusi tiap tahun yang tidak pernah tercapai atau menganggap perayaan tahun baru Masehi adalah bid’ah, tidak islami dan sesat.

Saya sendiri hari ini mengosongkan (dan membatalkan) semua agenda  hanya untuk fokus muhasabah dan membuat rencana setahun ke depan. And I’m super excited! Untungnya hari ini istri jadwal jaga malam, jadi bisa skip dulu dari rumah dan cari tempat tongkrongan yang nyaman.

Tahun 2015, Saya akui adalah tahun terberat yang pernah Saya jalani. Dan ketika menengok akhir tahun lalu, memang benar bahwa 2015 tidak Saya rencanakan dengan baik.
Waktu itu di Desember 2014, saat Saya masih bekerja di salah satu BUMN, Saya dipindah secara tiba-tiba dari unit “surga” (karena Saya menikmati pekerjaannya) ke unit “neraka” (yang job desc-nya tidak saya suka). Kondisi ini membuat Saya frustasi, kecewa, sedih, marah, karena merasa “dibuang”. Akibatnya, pergantian tahun Saya lewati dengan meratapi nasib sial. Jangankan resolusi, bahkan target-target kecil saja tidak ada untuk tahun 2015. Hanya satu keinginan yang terbesit: resign & pensiun sebagai karyawan. Sampai-sampai hampir semua password akun socmed dan aplikasi saya ganti menjadi: ‘retired2015‘!
Meskipun kemudian Saya mampu bertahan tiga bulan di unit “neraka”,  akhirnya Saya menyerah dan benar-benar retired (dari perusahaan itu) di tahun 2015. Hati-hati dengan keinginanmu!

Sekarang 2016 hampir menjelang, mari mulai langkah baru dengan perencanaan yang lebih baik. Tema Saya di 2016 adalah FOCUS (to build business & expertise). Kurang lebih 9 bulan Saya meniti jalan entrepreneurial, Saya masih coba banyak hal, mencoba menemukan mana jalan terbaik. Mungkin Saya akan mengganti password akun di aplikasi dan socmed menjadi ‘focus2016’ :p

Kembali ke topik resolusi tahun baru, ada sebuah notes dari Dewa Eka Prayoga yang wajib dibaca (pelan-pelan) dan dipraktekkan cara (baru) yang benar dalam membuat resolusi. Silakan baca di sini, atau jika suatu saat notes tersebut dihapus, Saya sudah mem-back up-nya di sini.

Untuk Resolusi 2016 Saya sendiri, insya Allah akan Saya posting di sini. dengan format yang disarankan oleh Dewa Eka Prayoga. Tapi sepertinya nanti tidak Akan Saya buka untuk umum, hanya untuk konsumsi pribadi dan orang-orang terdekat saja. Kalau sampai akhir tahun depan Saya masih hidup, insya Allah Saya akan review mengenai keberhasilan resolusi 2016 ini.

Jadi, apa RESOLUSI-mu?

Bayarnya Tuh Disini!

Seperti yang kemarin Saya tulis, mainan baru Saya masuk ke level yang lebih tinggi lagi. Mulai masuk ke tingkatan yang lebih serius, meskipun gak serius-serius banget.

Tulisan ini juga sekaligus sebagai press release dari layanan baru yang hari ini Saya luncurkan, yaitu layanan bayar-bayar yang semua orang pasti sudah tahu. FYI saja, bahwa selain bisa ke ATM, Indomaret, Alfamart atau Kantor Pos, aktivitas rutin bayar tagihan bulanan, beli pulsa, beli tiket pesawat dan kereta api, atau sekedar bayar zakat, infaq, shadaqah bisa ke Saya juga lho. 🙂

Lebih lengkapnya silakan meluncur ke laman ini, atau ketik di peramban: www.micromart.id. Gimana? Lengkap kan! Sekedar mengingatkan, layanan bayar-bayar ini disponsori oleh BebasBayar.

Jadi yang perlu bayar tagihan bulanan, beli pulsa, tiket pesawat dan kereta api, langsung saja kontak Saya ya. Masih simpan nomor Saya yang 081 222 566 444 kan? Boleh telepon, sms, atau WhatsApp. Bisa juga melalui email bijak[at]putranto[dot]com. Jangan lupa kasih tahu teman-teman ya. Bye!

 

Mainan Baru: BebasBayar

Pssst…
Saya baru dapat mainan baru nih.

Bermula dari susah tidur karena siangnya kelamaan napping, berlanjut ke artikel di DailySocial tentang startup baru dari Jogja bernama BebasBayar. Sebenarnya gak bisa dibilang baru juga sih, karena perusahaan dibalik BebasBayar ini sebenarnya adalah PT Bimasakti Multi Sinergi, perusahaan dibelakang layanan pembayaran FastPay yang sudah malang melintang sekitar 7 tahun di industri biller.

Lantas apa yang membuat Saya tertarik?

Beberapa orang mungkin sudah tahu kalau belakangan Saya disibukkan dengan aktivitas jaga toko. Nah di lapak baru Saya ini, kebetulan memang belum ada layanan pembayaran tagihan, pembelian tiket pesawat & kereta api, dan layanan PPOB lainnya. Yang sudah siap baru layanan penjualan pulsa. Standard ya.

Nah, dalam rangka mengadakan layanan loket pembayaran ini, akhir-akhir ini Saya survei dan riset tentang layanan-layanan semacam BebasBayar ini, tapi koq ya belum nemu yang pas. Kriteria yang Saya cari adalah:

  • layanannya lengkap, jadi cukup dari satu provider saja
  • bisa diakses dari berbagai device: PC, laptop, smartphone, tablet, dan juga yang paling sederhana: SMS
  • mudah digunakan, karena nantinya bukan Saya yang secara harian mengoperasikan, melainkan karyawan Saya yang notabene hanya lulusan SMA
  • menawarkan nilai tambah lainnya

Nah, dari beberapa bisnis sejenis, Saya melihat BebasBayar ini yang paling OK. Setidaknya sampai saat tulisan ini dibuat.

Bisnis loket pembayaran ini memang margin-nya kecil, tapi market size-nya sangat besar. Kenapa? Karena semua rumah tangga pasti melakukan pembayaran tagihan bulanan. Dengan semakin banyaknya yang menyediakan jasa ini, maka dipastikan yang akan dipilih adalah yang paling memudahkan. Misal, loket pembayaran di depan rumah jadi nggelinding dikit juga nyampe. Atau mungkin bayar tagihan ke temen kerja jadi ngesot juga bisa.

Mau pelajari BebasBayar lebih lanjut? Silakan menuju ke sini, sini, sini atau sini.

Resolusi Malam 1 Syuro: Hijrah

25 menit, dimulai dari sekarang. Teng!

Saya hanya punya waktu 25 menit untuk menulis post ini. Dan di 25 menit itu, Saya harus benar-benar fokus, tanpa distraksi. Hanya ke tulisan ini saja, ditemani timer dari smartphone.

Ya, Saya sedang menguji Pomodoro Technique yang katanya sangat efektif dalam meningkatkan produktivitas.

Beberapa riset sudah membuktikan bahwa bekerja atau melakukan suatu aktivitas, akan lebih efektif jika dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama tapi dengan fokus penuh-Adjie Silarus menyebutnya sebagai ‘Sadar Penuh Hadir Utuh’. Dibandingkan dengan jangka waktu yang lebih lama tapi disambi dengan beberapa kegiatan lain, seperti mengecek notifikasi HP, mengobrol, atau menonton TV.

Dalam artikel lain yang saya lupa dimana tautannya, disebutkan bahwa waktu yang paling efektif dalam melakukan suatu pekerjaan adalah 57 menit yang dilanjut dengan 17 menit rehat. Kalau tidak salah Saya baca artikel ini di 99u.com. #CMIIW

FYI, Saya menulis ini setelah berhasil menidurkan anak-anak, sementara istri lagi jadwal jaga malam. Ya seperti biasa, tulisan Saya masih ngalor-ngidul. Tadinya mau refleksi malam 1 Syuro alias malam tahun baru Islam 1 Muharam. Biasanya kan pasti diisi dengan menyusun resolusi. Sementara beberapa orang yang entah kerasukan apa, berendam semalaman di sungai dekat rumah Saya yang ada Tugu Soeharto-nya. Coba saja googling, Tugu Soeharto memang identik dengan malam 1 Syuro.

Ya sudah banyak penelitian menyimpulkan bahwa mayoritas orang gagal dalam merealisasikan resolusi tahun barunya. Makanya Saya cari alternatif lain. Cara baru untuk membuat hari ke hari semakin baik. tanpa bergantung kepada resolusi yang dibuat setahun sekali dan hampir pasti selalu gagal dan terulang lagi di tahun baru berikutnya.

Beberapa waktu terakhir ini, istri Saya jadi lebih sering mengajak untuk kembali membangun mimpi masa depan. Ya semacam, 10 tahun lagi kita bakal jadi apa, 5 tahun lagi kita lagi dimana. Bukannya Saya tidak punya mimpi besar, cuma Saya harus akui kelemahan Saya adalah untuk bisa fokus. Ya, Saya sangat mudah kehilangan fokus. Jadinya, apa yang sudah Saya lakukan selama ini belum ada yang benar-benar fantastis, fenomenal, bombastis, membahana. Masih pada level biasa-biasa saja. Padahal bukan sampai situ harusnya hidup kita. Bukankah masing-masing dari kita mengemban misi mulia di muka bumi. Bukankah ada makna dari pemilihan kita dari jutaan sperma lainnya. Kalau hidup hanya dijalani hampa tanpa makna, buat apa.

Kembali lagi ke resolusi tahun baru. Makna tahun baru Islam sebenarnya lebih kepada mengenang kembali maka Hijrah Rasulullah SAW dan para sahabat dari Makkah ke Madinah. Makna Hijrah untuk kita, bisa berarti fisik atau status. Berpindah ke tempat atau posisi yang lebih baik.

Tidak terasa 2015 pun hampir berakhir, kurang dari 3 bulan lagi. Tidak terasa enam bulan sudah Saya kembali menjadi Entrepreneur setelah sempat berpetualang sebagai corporate slave. Detik demi detik berlalu terasa begitu cepat. Mulai makin tambah khawatir karena sebentar lagi Saya masuk ke usia 30-an.

Belajar dari film ‘The Walk’ yang baru saja Saya tonton, Saya harus menetapkan mimpi yang sangat besar, kalau perlu hampir mustahil. Setelah membuat mimpi, jangan lupa ceritakan ke orang-orang terdekat supaya kita mendapat feedback. Beberapa dari mereka pasti akan mencibir, tapi sebagian lainnya pasti mendukung. Kita tinggal mengumpulkan para ‘the accomplishes’ yang akan mengiringi langkah kita menuju tercapainya mimpi. Sambil berjalan menuju impian tadi, perlahan-lahan, sedikit demi sedikit membangun diri. Atau bahasa lainnya, memantaskan diri di hadapan Tuhan untuk sesuai dengan kondisi dalam impian kita tersebut.

Ah, tulisan ini sudah terlalu panjang, sementara alarm 25 menit belum berbunyi. Bagaimana kalau kita akhiri saja?

Life Mapping

Tulisan ini dimulai dengan kebingungan. Bingung mau nulis apa, seperti biasa. Tapi tetap harus menulis. Mboh piye carane.

Oke, topik paling klasik untuk blogging adalah cerita pengalaman seharian. Mari kita Saya review dulu seharian ini (Minggu 30 Agustus 2015) ngapain aja.

Hari ini diawali dengan bangun dari tidur yang cuma 3 jam! Itupun masih dijeda shalat Subuh. Ya, semalaman nyetir Depok-Semarang, gak pake acara tidur di pinggir jalan. Total perjalanan cuma 8,5 jam! Terima kasih Pak Jokowi yang sudah menggunting pita peresmian jalan tol Cipali yang dibangun SBY. #setengahnyinyir

Tidak ada yang spesial di pagi hari, hanya aktivitas rutin dilanjut beberapa kerjaan nukang di salah satu kost yang dikelola dan yang pasti disambi nemenin Ziahaura & Dzunnurayn main, karena ummah-nya lagi jadwal jaga di rumah sakit.

Siangnya, setelah makan dilanjut dengan boci a.k.a bobok ciang dengan sukses selama 3 jam! Sorenya nyuci mobil sambil mandiin dua bocil.

Selepas maghrib, baru mulai serius dengan obrolan seputar rencana hidup. Istri “memaksa” Saya untuk segera mendesain Life Map, baik pribadi maupun keluarga. Beberapa tahun belakang kami memang melupakan life mapping dalam kehidupan kami. Hasilnya, ya hampir tanpa prestasi.

Di notebook Visual Note seharga Rp 50,000 yang dibeli di acara Ngadu Ide, Saya mulai doodling Life Map: Start from the End. Yes, semuanya memang harus dimulai dari akhir yang ingin kita capai. Meskipun umur hanya Allah yang tahu, tapi Saya berharap semoga disampaikan ke usia 70 tahun. Aamiin Yaa Rabb….

Meskipun belum final, setidaknya Saya sudah mendapat ’10 things to be & to do before die’.

  1. Hajj (rukun Islam)
  2. Hafidz
  3. PhD (in overseas University)
  4. Angel Investor of minimum Rp 1 Miliar
  5. Owner of ‘Rp 100 Miliar Company’ with minimum 1000 employees.
  6. Business coach & lecturer
  7. Travel to 5 continents
  8. Build a ‘Rumah Tahfidz’
  9. Write 3 books (minimum)
  10. Give a talk @ TED

Dari ke-10 hal ini, Saya coba breakdown ke yang lebih detil lagi termasuk penetapan target waktu dan jumlah minimal uang yang dibutuhkan. Disinilah hal yang lebih susah, karena ‘the devil is in the detail’. 

Lagi asyik corat-coret, gak nyangka udah adzan Isya. Sebelum beranjak ambil wudhu, terlintas satu hal yang sebenarnya sangat penting namun terlupakan dari 10 hal di atas. Maka Sayapun menambahkan hal terpenting tersebut di atas semuanya:

0. Being a great father & awesome husband.

Itu.

Tantangan Menulis 1500 Kata

Mulai dari mana ya?

Mmm..

Duh, koq bingung ya…

Sebentar, biarkan Saya mengingat-ingat dulu…

Oke. Jadi begini ceritanya.

Berawal dari sebuah tulisan di web panduanim.com, dimana 25 blogger (terbaik?) Indonesia berbagi 81+ tips membuat blog. Salah satunya adalah tips dari mas Rusdianto pemilik writepreneurs.com:

Pastikan Anda posting konten mendalam minimal 1.500 kata.

Terus terang, selama Saya (jarang-jarang) nge-blog sejak 2007, tidak pernah sekalipun Saya menghitung jumlah kata pada tiap post. Mengalir saja. Apa adanya.

Mungkin disitu juga letak kesalahannya. Blog Saya tidak pernah benar-benar serius dan belum menghasilkan sama sekali.

Menulis (minimal) 1500 kata ternyata memang bermanfaat dari segi SEO. Tapi lupakan dulu SEO, karena sejatinya blogging adalah tentang passion. Disitu juga akan tampak seberapa dalam kita menguasai tentang suatu hal.

Tunggu dulu, sampai disini kira-kira sudah berapa kata ya? Wow ternyata baru 140-an, dan itupun belum berbobot.

Hosh…hosh…hosh…

Menulis 1500 kata ternyata mirip-mirip lari 15K. Perasaan koq ga nyampe-nyampe…

Oiya, untuk menulis ini awalnya Saya menggunakan ZenPen.io yang minim distraksi tapi sayangnya tidak ada word-counter nya. Akhirnya Saya kembali ke editor di dalam dashboard blog ini.

Kembali ke tantangan menulis 1500 kata. Kenapa kita susah sekali menulis sebanyak itu? Saya memiliki dua hipotesis untuk hal ini:

  1. Kita belum terbiasa menulis
  2. Kita mencampur aktivitas menulis dengan kegiatan lainnya.

Untuk hipotesis pertama, tidak perlu penjelasan terlalu panjang. Akui saja, membaca saja jarang apalagi menulis. Logikanya untuk bisa banyak menulis, maka harus (lebih) banyak membaca.

Untuk yang kedua, Saya teringat tulisan Adjie Silarus di bukunya ‘Sadar Penuh Hadir Utuh’. Bahwa dalam kehidupan kita sehari-hari, kita sering sekali mencampurkan tiga kategori aktivitas: mengkonsumsi, berkomunikasi, dan mencipta. Di era yang serba cepat tergesa-gesa ini, kita terlalu sering multitasking: makan sambil mengerjakan tugas disambi membalas chat di hp. Pffttt. Padahal idealnya, untuk meraih produktivitas optimal tidak semestinya kegiatan mengkonsumsi, dicampur dengan aktivitas berkomunikasi apalagi mencipta. Katanya otak kita tidak didesain untuk switch aktivitas secara cepat. Meskipun kita sudah berganti aktivitas, pikiran kita masih tinggal di aktivitas sebelumnya.

Menulis, adalah bagian dari kegiatan mencipta. Menghasilkan karya. Untuk bisa mendapatkan hasil optimal, semestinya kita meluangkan waktu, sendiri, hening, dan fokus, hanya untuk menulis saja. Tidak dicampur dengan yang lainnya. Sebisa mungkin minimalkan distraksi yang bisa mengganggu konsentrasi: notifikasi dari hp, TV, apapun.

Menulis tulisan ini saja, tidak dilakukan sekali duduk. Awalnya ditulis di Minggu pagi, tapi disambi nungguin tukang benerin listrik dan nemenin istri benerin rumah. Kemudian dilanjut Senin selepas shalat subuh, di depan TV sambil ngobrol dengan orang tua. See, saya mencampurkan aktivitas mencipta (menulis) dengan mengkonsumsi (distraksi dari TV) dan berkomunikasi (ngobrol dengan tukang, istri, dan orang tua). Akibatnya, sampai paragraf ini baru 420 kata tercipta. Hosh….bahkan sepertiga dari target saja belum. -_-“%0

ZAPA: CRM Mobile App Untuk UKM Hebat

zapa

Pada hari Senin 3 November lalu, Telkom Indonesia meluncurkan mobile app untuk Customer Relationship Management (CRM) bernama ZAPA. Diambil dari kata ‘sapa’, ZAPA memang ditujukan sebagai media komunikasi antara Telkom dengan UKM dan antar sesama pelaku usaha.

Untuk tahap awal, ZAPA dapat digunakan di smartphone berbasis Android dan selanjutnya akan dikembangkan untuk platform iOS, Blackberry, dan Windows Phone. Fitur yang terdapat pada ZAPA dikelompokkan ke dalam 2 kategori utama: MyTelkom dan MyUKM. MyTelkom terdiri dari:

  • Profil : profil pengguna/UKM yang mendaftar di ZAPA
  • Produk : deskripsi produk – produk Telkom yang bermanfaat bagi UKM. Pengguna juga dapat melakukan order produk Telkom tsb langsung dari aplikasi ini.
  • Status Order : Pengguna yang sudah melakukan order produk Telkom dapat melihat status delivery ordernya pada menu ini
  • Tagihan : informasi tagihan dari produk Telkom yang digunakan oleh UKM
  • Near Me : informasi kantor Telkom dan lokasi UKM lainnya yang terdekat ke lokasi pengguna
  • Pengaduan : layanan pengaduan terhadap produk / layanan Telkom yang dapat dilakukan via Live Chat langsung dari mobile maupun pengaduan via telepon ke 500250

Sementara MyUKM, terdiri dari:

  • Acara : jadwal event yang berkaitan dengan UKM
  • Direktori UKM : info seputar UKM yang dibagi dalam beberapa direktori sesuai bidang usaha UKM
  • Forum : media komunikasi antar UKM dan Telkom, baik terkait topik produkTelkom maupun topik seputar pengembangan bisnis UKM

ZAPA  sebagai media komunikasi antar UKM dapat meningkatkan peluang pasar bagi UKM dengan adanya info seputar UKM dalam Direktori UKM, peningkatan wawasan pelaku UKM melalui forum komunikasi antar UKM dan juga informasi jadwal event terkait pengembangan bisnis.

ZAPA juga memberikan kemudahan bagi UKM untuk mendapatkan layanan ICT dari Telkom, karena dari aplikasi tersebut pengguna dapat langsung memesan produk, memantau status order dan penanganan gangguan, serta melakukan pembayaran tagihan secara langsung.

Untuk mengunduh aplikasi ZAPA silakan membuka aplikasi Play Store di smartphone Android atau klik di sini.

Acara peluncuran ZAPA juga diliput oleh beberapa media nasional yang bisa dibaca di tautan-tautan di bawah ini:

http://www.majalahict.com/berita-6089-wujudkan-1-juta-ukm-hebat-telkom-luncurkan-zapa.html
http://www.indotelko.com/kanal?c=id&it=Telkom-Harapkan-Zapa-Tingkatkan-Daya-saing-UKM
http://industri.kontan.co.id/news/telkom-berharap-zapa-bisa-banyak-menjaring-ikm
http://www.the-marketeers.com/archives/peduli-ukm-telkom-luncurkan-zapa.html
http://m.jpnn.com/news.php?id=267701
http://www.antaranews.com/berita/462197/telkom-targetkan-sejuta-pelaku-ukm-gunakan-zapa-mobile-apps
http://teknologi.inilah.com/read/detail/2150979/telkom-luncurkan-aplikasi-mobile-untuk-pelaku-ukm#.VFitbPmUeAU
http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2150763/telkom-kembangkan-mobile-apps#.VFitePmUeAU
http://emka.web.id/e-bussiness/2014/telkom-luncurkan-program-zapa-aplikasi-mobile-crm-untuk-umkm/

Lomba Lari Selamanya

Tuntutan kenaikan UMK (Upah Minimum Kota/Kabupaten) yang sekarang lagi marak ini seperti lomba lari tikus yang gak bakal ada ujungnya. Demo buruh yang diawali di DKI Jakarta (kalau saya tidak salah) ini kemudian mewabah di daerah-daerah lain di Indonesia. Sejatinya akan begitu seterusnya sampai semua daerah dipenuhi tuntutannya, dan akan berulang kembali siklusnya dimulai dari daerah pertama (DKI Jakarta). Karena kebutuhan nafsu manusia tak ada batasnya.

Pesan sponsor: daripada lomba lari tikus, mending ikut borobudur10k.com