Resep Bisnis ala Utsman bin Affan

Resep Bisnis ala Utsman bin Affan

Di salah satu kajian sejarah ust. Budi Ashari, pernah disinggung mengenai 5 resep bisnis ala Utsman bin Affan radhiyallahuanhu.

Kalau dicari di Youtube mungkin ada rekamannya, tapi saya lupa yang mana.

Alhamdulillah saya masih nyimpen catatannya, jadi sekarang saya bisa share… Lanjutkan membaca →

Fokus Membangun Kekuatan

Fokus Membangun Kekuatan

Bismillah…
Dalam dunia tulis menulis, secara garis besar ada dua aliran utama: fiksi dan non-fiksi.
Saya belum pernah menemukan, atau sayanya yang kurang gaul, ada penulis yang bisa menulis di dua aliran tersebut.
Kalaupun ada, ya paling hanya sekedar bisa. Gak sampai pada tingkat juara, fenomenal, best-seller.

Kenapa?
Karena penulis profesional tahu & yakin bahwa kalau mereka mau sukses, maka mereka harus FOKUS di salah satu aliran saja.

Begitu juga dalam bisnis.
Di awal-awal memulai bisnis mungkin Anda akan mengerjakan semuanya seorang diri. Mulai dari mencari/membuat produk, sales, marketing, sampai pembukuan.
Karena mungkin Anda memulai bisnis seorang diri.

Tapi akan ada saatnya, Anda harus berani untuk ambil sikap dan mendelegasikan pada karyawan Anda.
Anda tinggal cukup fokus pada dimana kekuatan Anda. Apakah di produksi, marketing, atau akuntansi.

Kalau Anda selamanya menghandle itu semua seorang diri, maka bisnis Anda tidak akan besar dan Anda akan lelah lalu menyerah.

Begitu juga dalam dunia Internet Marketing (IM).
Ada banyak sekali aliran di dalamnya. Teknik-tekniknya pun berragam.
Ada SEO, paid traffic (bisa Facebook Ads, Google Adwords, atau yang lainnya), content marketing/blogging, sales funnel dan lain sebagainya.

Anda tidak akan bisa menjadi spesialis jika Anda berusaha menguasai semuanya.
Di satu subyek saja, Anda memerlukan banyak waktu dan tenaga untuk mempelajari, mempraktekkannya.

Malcolm Gladwel pernah memperkenalkan konsep ‘10.000 jam’. Dimana Anda membutuhkan 10.ooo jam minimal, untuk bisa menjadi seorang pakar (expert).

Konsep ini berkembang. Teori 10.000 jam ternyata hanya berlaku untuk dunia atau bidang yang tidak terlalu berkembang sangat cepat, seperti musik, seni, literasi.
Sementara untuk teknologi yang sangat cepat perkembangannya, teori 10.000 jam digantikan dengan ‘10.000 eksperimen’.

Seperti yang dilakukan oleh Mark Zuckerberg (Facebook), Jeff Bezos (Amazon), dan Jack Ma (Alibaba).

Dalam sebuah wawancara, Zuckerberg sendiri yang bilang, kalau saat ini di waktu yang sama, ada lebih dari 10.000 versi Facebook yang sedang live.

Tujuan seseorang menulis, berbisnis, atau apapun itu memang berbeda-beda.
Tapi cara menjadi sukses hampir pasti selalu sama: temukan dimana kekuatan Anda, fokus meningkatkan kekuatan bukan menutupi kelemahan, lalu tekun dan disiplin menjalankan.

“Do your best, let God takes the rest…”

Teach What You Know

Tahun 2009-2012 Saya pernah jadi dosen di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Aktivitas harian seputar baca2 materi, bikin slide presentasi & mengajar di kelas.

Sebagai dosen junior, Saya lebih sering dapat mata kuliah sisa. Mata kuliah yang gak menarik, yang gak ada dosen yang mau ngajar (termasuk Saya). Tapi karna kewajiban pekerjaan, mau gak mau, ya harus dijalani.

Lama2 Saya merasa bosan dengan rutinitas ini. Semuanya seperti berjalan auto-pilot, tanpa ruh dan passion.

Tahun 2013, saya “cuti” dari mengajar secara resmi di institusi, tapi masih cerewet ‘sharing’ di socmed (waktu itu yang asyik di Twitter).

Seiring berjalan waktu, Twitter makin sepi dan temen2 makin rame ke Instagram. Praktis Saya jadi terbawa arus.

Perlahan, Facebook jadi mulai rame lagi. Ditandai dengan momen Instagram dibeli Facebook. Akun fb yang sudah mati suri, akhirnya hidup lagi.

Bosan dengan arus mainstream, tahun 2014 Saya memutuskan untuk kembali ke blog pribadi. Kebetulan domain putranto.com juga baru available sejak ditinggalkan pemilik lama.

Tren social media bisa silih berganti, tapi berkreasi di blog pribadi seperti punya rumah sendiri.

Apapun medianya, semangatnya tetap sama: bagikan yang dipelajari, ajarkan yang diketahui.


Artikel ini pertama kali di-publish di Facebook Page baru Saya.

Pentingnya Menggembala Kambing Bagi Pertumbuhan Anak

Ada yang hilang dari pembelajaran seputar parenting yang selama ini Saya dapatkan dari seminar, pelatihan, buku atau konten-konten yang dibagi di Internet sehari-hari. Apa itu?
Pentingnya menggembala kambing/domba!

Setidaknya itu yang Saya alami sendiri. Selama 5 tahun terakhir ini sejak kabar kehamilan istri mengandung anak pertama, sudah lumayan banyak Saya belajar cara menjadi orang tua yang baik, baik menggunakan teori parenting modern maupun yang merujuk ke dalil agama (Al-qur’an & hadits). Tapi tidak Satupun yang menyinggung hal ini. Tunggu sampai Saya ceritakan materi kajian Siroh Nabawiyah di Masjid Affa Ulya Perumahan Graha Estetika Semarang kemarin Maghrib*.

Hampir semua muslim (khususnya yang pernah ikut Taman Pendidikan Qur’an atau pelajaran agama Islam di sekolah) tahu bahwa Muhammad SAW di usia 8 tahun ditinggal mati oleh kakek tersayang (Abdul Muthalib) dan kemudian diserahkan pengasuhannya ke pamannya (Abu Thalib).

Berbeda dengan kakeknya, paman Muhammad SAW ini tidak terlalu kaya bahkan memiliki banyak anak. Kehadiran Muhammad SAW di keluarga pamannya tentu menjadi tambahan beban. Tapi hebatnya (dengan hikmah Allah), Muhammad SAW di usia sekecil itu sudah mengerti bahwa ia harus hidup mandiri dan membantu pamannya untuk mencari penghidupan.

Apa yang Muhammad SAW lakukan? Menggembala kambing & domba milik penduduk Makkah!

[quote name=”H.R. Bukhari”]Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan dia mengembalakan kambing”. Para sahabat bertanya: “Termasuk engkau juga?” Maka Beliau menjawab: “Ya, aku pun mengembalakannya dengan upah beberapa Qiroth untuk  penduduk Makkah”.[/quote]

Kalau melihat konteks hadits ini, berarti termasuk Nabi Sulaiman AS yang kaya raya pun waktu kecilnya pernah menggembala kambing, juga tak terkecuali dengan Yesus AS. Teman-teman Nasrani yang baca tulisan ini, mohon konfirmasinya ya 🙂

[tagline]Semua nabi di masa kecilnya adalah penggembala kambing, karena nantinya mereka akan “menggembala” umat.[/tagline]

Ternyata banyak hikmah yang bisa kita petik.

Yang pertama, dengan memiliki pekerjaan sebagai penggembala kambing maka Muhammad SAW diajari tentang KEMANDIRIAN. Karena sebaik-baik harta yang dimakan adalah harta yang didapat dari kerja tangan sendiri. Itulah kenapa kita juga dilarang mengemis. Tak terkecuali untuk yang meminta-minta dengan proposal.

[quote name=”Muttafaq ‘Alaih”]Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain (mengemis) sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya.”[/quote]

Dengan Muhammad SAW tidak menggantungkan hidupnya pada siapapun, hal ini juga membawa hikmah ketika akhirnya harus menyampaikan risalah kebenaran.
Bayangkan kalau di masa kecil hidup Muhammad ditanggung oleh Abu Lahab yang juga pamannya. Ketika harus mengkoreksi orang yang menanggung hidupnya sedari kecil, tentu ada perasaan tidak enak di hati Muhammad SAW, yang kalau orang Jawa biasa menyebut dengan perkewuh.  

Hikmah kedua dari pengalaman menggembala kambing adalah belajar KESABARAN. Diceritakan oleh ust. Amin Taufiq LC yang membawakan kajian ini, bahwa menggembala kambing tidak sama dengan menggembala kerbau atau unta.
Kambing membutuhkan waktu yang lebih lama untuk makan dibandingkan kerbau, sehingga otomatis lebih lama juga waktu yang dibutuhkan untuk menggembalanya. Selain itu, kambing juga memiliki sifat mudah bercerai berai dari barisan. Sehingga dibutuhkan kesabaran yang luar biasa untuk bisa mengendalikan kambing. Tidak disebutkan berapa banyak jumlah kambing yang digembala oleh Muhammad SAW, namun gambarannya sekitar puluhan ekor.
Sementara unta adalah hewan yang cukup pintar karena ia bisa kembali kepada pemiliknya, sehingga kita dilarang untuk mengambil unta yang sedang tersesat.

[quote name=”Muttafaq’Alaih”]Dari Zaid bin Khalid al-Juhani Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Datang seorang Badui kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya bertanya kepadanya tentang apa yang ia temukan. Beliau bersabda: “Umumkan selama satu tahun, kemudian kenalilah tempatnya dan tali pengikatnya, apabila datang seseorang memberitahukan kepadamu tentangnya maka berikanlah, jika tidak maka belanjakanlah”.
Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana dengan kambing yang tersesat?’ Beliau menjawab, ‘Itu milikmu atau milik saudaramu atau milik serigala.’
Ia berkata, ‘Bagaimana dengan unta yang tersesat?’ Maka wajah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah dan bersabda, ‘Apa hubungannya denganmu? Ia membawa sepatu dan kantong airnya, ia bisa datang ke tempat air dan memakan tumbuhan.’”[/quote]

Hikmah ketiga, adanya pembelajaran untuk menjadi TAWADHU, rendah hati. Menggembala kambing adalah aktivitas luar ruang yang menutut untuk berinteraksi dengan alam. Semakin kita sering ber-tadabbur alam, maka makin sadarlah kita kedudukan kita di alam semesta yang maha besar ini, bahwa kita hanya bagian kecil darinya. Kesenangan berinteraksi dengan alam ini jugalah yang menuntun Nabi Ibrahim AS “menemukan Tuhan”.

[tagline]Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan makhluk lain.[/tagline]

Kemudian, meskipun terlihat sederhana, aktivitas menggembala kambing ternyata juga mengajarkan KEBERANIAN. Itulah hikmah selanjutnya yang bisa kita ambil.
Jangan dibayangkan menggembala kambing hanya melipir ke taman dekat rumah. Di masa itu, namanya menggembala harus mendaki gunung lewati lembah untuk bisa mendapat padang rumput yang subur. Artinya, harus berhadapan dengan risiko bertemu binatang buas. Maka pernahkah kita temukan para nabi yang ketakutan karena ancaman pembunuhan oleh yang menentangnya?

Yang terakhir, menggembala kambing mengajarkan pentingnya KASIH SAYANG dan sikap LEMAH LEMBUT kepada sesama. Maka jomblo yang lagi cari suami, pilihlah yang berprofesi sebagai penggembala. Hewan aja disayang, apalagi kamu! #Eeeaaaaa

Saat ini mulai bermunculan kesadaran untuk kembali kepada parenting nabawiyah yang diambil dari kisah para Nabi baik sebagai anak maupun orang tua. Tiga aktivitas yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk dikenalkan kepada anak-anak semakin eksis. Klub renang makin banyak, komunitas memanah bermunculan, tempat latihan berkuda pun sudah ada. Sepertinya perlu ditambahkan lagi kurikulum menggembala kambing untuk anak-anak usia SD. Setuju?

===

*) Kajian Siroh Nabawiyah di Masjid Affa Ulya yang kali ini adalah yang ke-delapan dan masih akan ada lagi kelanjutannya, insya Allah.

**) Hikmah-hikmah tadi tidak hanya penting sebagai pembentukan karakter seorang Nabi, namun juga bermanfaat bagi sifat seorang pengusaha.

 

5 Prinsip Belajar dalam Berbisnis

[tagline]Tulisan ini ditulis secara “terpaksa”, karena kalau gak, niscaya blog ini gak akan pernah di-update.[/tagline]

Lagi-lagi mas Fikry Fatullah membagikan resep rahasia yang maknyus untuk pebisnis dan entrepreneur. Di Radio Kajian Bisnis Online edisi 81, kita bisa belajar bagaimana menyeimbangkan belajar dan praktek dalam bisnis.

Kalau tidak punya waktu 24 menit untuk mendengarkan podcast, langsung saja lompat ke rangkuman yang Saya buat. Ini dia lima prinsip belajar dalam berbisnis:

  1. Belajar adalah liburan. Saat belajar, artinya Anda sedang tidak berbisnis.
  2. Saat belajar, cari 20% yang akan berpengaruh setidaknya 80% pada bisnis Anda (Paretto).
  3. Belajar hanyalah setengah dari perjalanan Anda. Praktekkan, maka Anda akan sampai di tujuan.
  4. Semua yang Anda pelajari bisa dan akan berubah. Artinya, jangan pernah puas dan berhenti belajar.
  5. Belajarlah dengan prinsip just-in-time (apa yang sedang mentok, pelajari ilmunya), bukan just-in-case (belajar dulu, siapa tahu suatu saat butuh).

5 Pola Bisnis Online Berkelimpahan

[tagline]Ini adalah catatan dari webinar “5 Hal Yang Harus Anda Lakukan Jika Omset Bisnis Online Anda Belum Mencapai 100 Juta” bersama mas Fikry Fatullah[/tagline]

Mungkin ada yang belum kenal sama mas Fikry Fatullah yang pertama kali saya kenal lewat Radio Kajian Bisnis Online-nya. Beliau pernah menjadi Juragan Pemasaran Yukbisnis.com dan saat ini katanya sedang fokus di Kirim.Email, layanan email marketing untuk UKM.

Mas Fikry ini buat saya spesial, karena gak cuma pengalamannya yang banyak di bisnis online tapi juga pengetahuannya luas (bisa dicek dari bacaan buku2-nya) dan pemahaman Islam-nya baik. Kalau tidak percaya, dengarkan saja Radio KBO yang sampai tulisan ini dibuat sudah sampai episode 70.

Oke, langsung ke “5 Pola Bisnis Online Berkelimpahan.”

Sebagai catatan, berkelimpahan disini maksudnya hasil dari bisnis online bukan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari (baca: berkecukupan), tapi juga sudah bisa untuk hal-hal lain yang bikin hidup lebih nyaman (sedekah lebih banyak dll).

Meskipun standar kebutuhan hidup tiap orang beda-beda, kalau dinominalkan “berkelimpahan” disini berarti omset diatas Rp 100juta. Kalau Anda sudah mencapai level itu, silakan tinggalkan tulisan ini.

Ini dia.

1. FOKUS!

[quote align=”alignleft” name=”Josh Billings”]Be like a postage stamp-stick to one thing until you get there.[/quote]

Ada sebuah peribahasa Rusia yang mengatakan: “jika kita mengejar dua kelinci, maka kita tidak akan menangkap satu kelincipun.” Penyakit jama’ah para pebisnis pemula ya ini, gak fokus. Termasuk saya. Begitu melirik rumput tetangga lebih hijau, jadi pengen ikutan makan rumput. #eh

Satu fakta yang menarik, bahwa 6 dari 10 orang terkaya di dunia (versi Forbes 400) fokus hanya di satu bisnis. Nah dari 6 orang tersebut, yang paling muda usia bisnisnya adalah Mark Zuckerberg yang ‘baru’ 12 tahun mendirikan Facebook. Jadi kalau baru 2-3 bulan sudah mulai merasa bisnisnya gak prospektif, ya malu sih ya harusnya. #ambilkaca

[row]

[alert title=”JAWAB:”]Apa satu hal yang akan Anda kerjakan 10 tahun mendatang?[/alert]

[/row]

2. Menarik bagi pasar.

Saat ini semua bisnis adalah ‘bisnis media’. Semua orang punya kesempatan yang sama untuk mengumpulkan orang dari segmen yang sama di tempat yang sama pada waktu yang sama, inilah yang dimaksud dengan media.

Maka, kuasailah minimal satu media, apakah itu Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, atau yang lainnya. Yang dari media tersebut kita bisa menyebarkan konten yang menarik pengunjung untuk kemudian dikonversi menjadi pembeli. Konten bisa berupa tulisan, gambar, video, audio, atau apapun yang kita sumbangkan ke Internet.

Dan ingat, “people don’t buy the product, they buy the story behind the product.” Maka kemampuan yang harus dimiliki pebisnis selain menjual, adalah bercerita (story telling). Cerita adalah jalan pintas “mengakses” emosi. Itulah kenapa produk-produk yang laris di pasaran, bukan yang menyentuh logika, melainkan yang menyolek emosi.

Buat mbak-mbak yang bisnis hijab, coba renungkan ini.

Anda sedang berjualan kerudung, atau melakukan upaya agar para Muslimah menjadi lebih baik?

3. Customer Centric.

Ingat, customer-centric. Bukan product-centric. Fokuslah ke konsumen yang Anda layani, bukan kepada produk yang Anda tawarkan.

Jika fokus anda MELAYANI target pasar, anda bisa menjual lebih banyak produk ke target pasar yang anda layani.

Satu bisnis semestinya didesain untuk melayani satu segmen pasar yang spesifik. Hal ini akan berpengaruh kepada “cara berbicara” (baca: copywriting) yang merupakan fokus untuk melayani target pasar.

[row]

[alert title=”JAWAB:”]Siapa yang Anda (dan bisnis Anda) layani saat ini?[/alert]

[/row]

4. Aggressive Reinvestment.

Panganan opo iki? :p

Definisi singkatnya adalah investasikan keuntungan Anda secara agresif kembali pada bisnis Anda. Kurangi dulu keuntungan untuk kebutuhan hidup pada taraf CUKUP, lalu sisanya langsung kembalikan ke bisnis. Jangan biarkan bisnis Anda mendapat ‘sisa’ dari gaya hidup Anda. #makjleb

Tapi hati-hati! Sebelum omset Anda mencapai Rp 100 juta, jangan investasikan pada hal-hal yang tidak mampu dilihat konsumen. Melainkan, coba putar kembali profit bisnis ke beberapa hal berikut:

  • belanja iklan (Facebook Ads, Google Adwords, endorser, dll)
  • website yang SEO-friendly
  • layanan landing page
  • hp android biasa untuk CS (agar pelayanan lebih cepat)
  • aplikasi/tools yg akan membantu mendatangkan pembeli online
  • layanan email marketing
  • banner desain untuk iklan
  • peralatan foto/video secukupnya

[row]

[alert title=”JAWAB:”]Standar hidup cukupnya Anda berapa?[/alert]

[/row]

5. Menguasai TRAFFIC.

Bisnis online sama seperti ‘anak’ yang perlu diberi makan  setiap hari. Dan makanan bagi bisnis online kita adalah: TRAFFIC. Bukan sekedar kunjungan, tapi kunjungan yang berkualitas a.k.a tertarget.

Setahu Saya ada tiga jenis traffic pada bisnis online:

  1. Traffic we don’t control; kunjungan dari media sosial, blog, dll.
  2. Traffic we control; kunjungan dari Facebook Ads, Google Adwords, dan paid advertising lain.
  3. Traffic we own; kunjungan dari email database yang kita bangun & miliki.

[quote]Jangan menggantungkan bisnis Anda di “rumah” orang lain. Bangun database email Anda mulai sekarang.[/quote]

Masih segar dalam ingatan Saya, tentang Bang Motty yang kehilangan akun Facebook dalam semalam karena katanya melanggar aturan dari Facebook. Jadi memang, selain harus memilliki website sendiri, database email pengunjung harus jadi prioritas para pebisnis online saat ini.

Kalau mau tahu lebih lanjut tentang email marketing, langsung aja meluncur ke Kirim.Email (bukan link affiliate :p).

===

Kalau ada yang ikutan webinarnya dan merasa ada yang salah/kurang dari catatan Saya ini, silakan komentar di bagian bawah tulisan ini ya. 🙂


Aplikasi GramPoster untuk optimasi Instagram masih dibuka sampai 27 Oktober 2016. Gunakan kode kupon OPTIMASI untuk diskon 50%. Lihat reviewnya di sini>> www.putranto.com/gramposter

5 Jurus Penghapus Masalah & Pengundang Rezeki

Beberapa hari yang lalu, Saya posting status di Facebook yang ngajakin ikut seminar kajian “Bisnis Berkah Rezeki Melimpah”. Daripada beli infaq 1 tiket Rp 20.000, mendingan bayar Rp 40.000 dapat 3 tiket. Jatuhnya lebih murah untuk harga 1 tiketnya dan 2 tiket lainnya Saya sedekahkan. Alhamdulillah, 2 tiket bonus itu dipakai teman istri (& suaminya) dan kebetulan yang bersangkutan dapat doorprize di acara tersebut. Semoga materi & bonusnya bermanfaat ya mbak 🙂

Sekitar hampir 6 tahun lalu, tempat yang ada backdrop itu jadi saksi (ngunduh mantu) pernikahan saya :)
Sekitar hampir 6 tahun lalu, tempat yang ada backdrop itu jadi saksi (ngunduh mantu) pernikahan saya 🙂

Saptuari memang jadi daya tarik tersendiri untuk acara ini. Cuitan dan status FB-nya sering jadi inspirasi, khususnya seputar entrepreneurship dan inspirasi hidup. Beberapa bukunya juga sudah pernah saya baca. Kalau belum kenal, googling dulu aja kali ya :p
Blognya mas Saptu (sayangnya saat tulisan ini dibuat, domain saptuari.com sudah expired) juga lumayan fenomenal, karena dari salah satu post-nya akhirnya terbentuklah gerakan Sedekah Rombongan yang sudah menyalurkan dana bantuan milyaran rupiah ke dhuafa. Saya sendiri pernah mengabdikan diri jadi kurir a.k.a supir ambulance-nya SR selama 2 bulan.

IMG_4246
Aku mah apa atuh, cuma supir ambulance :p

Inti materi yang dibawakan mas Saptu adalah 5 jurus penghapus masalah dan pengundang rezeki. Ringkasnya bisa dibaca di featured image postingan ini. Tapi yang menjadi ciri khas Saptuari adalah tiap poin disajikan dengan kisah atau pengalaman nyata, baik dari mas Saptu maupun dari orang lain. Saya gak bisa menjabarkan semua di tulisan ini, tapi beberapa kisah sempet bikin saya mewek dan melelehkan air mata :'(

Jadi kalau selama ini sudah merasa berjuang keras dalam hidup, plus digenjot juga dengan ibadah tapi masih seperti ada hijab antara kita dan rezeki kita, siapa tahu ada satu atau beberapa dari 5 poin ini yang kita lewatkan. Coba ambil notebook atau catat di gadget, apakah 5 jurus ini sudah kita amalkan?

  1. Menjaga shalat (shalat wajib tepat waktu + shalat dhuha + shalat malam)
  2. Menjaga rumah Allah (baca: memakmurkan Masjid)
  3. Meminta do’a ibu (bagian ini yang paling melankolik)
  4. Memperbanyak sedekah (diam-diam & terang-terangan)
  5. Meninggalkan RIBA (makjleb! jleb! jleb!)

Kelihatannya 5 jurus penghapus masalah & pengundang rezeki diatas itu simpel. Tapi prakteknya itu yang warbiasyak susah!

Tulisan ini ditujukan untuk yang punya blog ini. Tapi kalau ada yang mbaca dan akhirnya ikut tergerak & bantu menyebarkan, ya Alhamdulillah. Kalau ada yang punya jurus rahasia lainnya jangan sungkan buat nambahkan di kolom komentar ya. 🙂

==========================

PS. Selain mas Saptu, ada Ust. Riyadh (pemateri kajian Hikam tiap Senin malam di masjid Hotel Grasia Semarang) juga sebagai pemateri lain. Inti materinya hampir sama & ada beberapa tambahan, tapi sepertinya perlu dibahas di lain waktu & tempat.

 

Featured Image: Irma Kamelia (thank you hon :))

 

Belajar Entrepreneurship dari 5 Bocah Entrepreneur

Jaman sudah berubah, demikian pula generasi yang hidup di jaman tersebut. Apa yang kita alami di masa kecil, mungkin tidak akan terulang lagi di masa kecil anak cucu kita nanti. Saya adalah seorang dari generasi millenial atau biasa disebut Gen-Y, sementara anak-anak Saya terlahir sebagai Gen-Z atau generasi post-millenial yang lahir setelah tahun 2000.

Maka kita tidak bisa lagi memaksakan apa yang diajarkan oleh orang tua kita dulu kepada anak-anak kita. Terutama pada pilihan karir-bukan pekerjaan-yang akan mereka jalani nantinya. Dan tahukah kita, bahwa menjadi seorang entrepreneur telah menjadi pilihan karir untuk masa depan? Kemajuan suatu negara ditentukan oleh banyaknya entrepreneur di negara tersebut. Data menunjukkan bahwa negara-negara maju memiliki sedikitnya 10% entrepreneur dari jumlah penduduknya.

Istilah entrepreneur berasal dari bahasa Prancis yang pertama kali digunakan pada 1973. Kini entrepreneur lebih dimaknai sebagai “seseorang yang memiliki kualifikasi kepemimpinan, inisiatif mengambil risiko, dan inovasi dalam mendirikan suatu usaha (dapat berbentuk perusahaan, organisasi, lembaga sosial, dll)”.

Beberapa hari yang lalu, Saya menonton “Chef” sebuah film yang sebenarnya sudah dirilis tahun 2014 lalu. Di film bergenre drama komedi berdurasi 114 menit tersebut menceritakan kisah seorang Chef hebat yang bekerja di sebuah resto elite. Karena suatu hal sepele yang akhirnya menjadi besar, Chef tersebut dipecat dan akhirnya menjadi pengangguran. Krisis ini menuntunnya untuk menjadi seorang entrepreneur.
Ia dibantu oleh anaknya yang pra-remaja menjalankan bisnis kuliner dengan menggunakan sebuah food-truck, seperti yang saat ini lagi nge-hits di Jakarta, Bandung dan kota besar lain. Di akhir cerita, dikisahkan Chef akhirnya memiliki restonya sendiri karena bisnisnya semakin besar. Salah satu pelajaran yang saya tangkap dari film tersebut adalah: ajarilah anakmu entrepreneurship sedini mungkin, dimulai dengan mengajarkan pelajaran hidup paling dasar: berjualan.

Kalau cerita di atas hanya ada di film, ternyata di dunia nyata sudah ada beberapa anak yang (mulai) sukses menjadi entrepreneur dan memiliki bisnisnya sendiri. Saya coba ambilkan contoh 5 anak yang bisa menjadi inspirasi:

  1. Evan, 9 tahun. (EvantubeHD.com)

Evan pertama kali membuat video tentang review produk mainan pada tahun 2011 dan saat ini channel -nya di Youtube sudah memiliki lebih dari 2 juta subscriber. Dari channel tersebut Evan bisa menjual iklan atau bekerjasama dengan brand mainan anak-anak.

  1. Henry Patterson, 11 tahun. (Not Before Tea)

Henry menjual pupuk dari kotoran kuda saat usia 5 tahun, saat ini memiliki bisnis produk untuk anak-anak bernama Not Before Tea yang terinspirasi dari buku yang ditulisnya saat berusia 10 tahun, The Adventures of Sherb and Pip, yang juga sudah terjual ribuan copy. Salah satu sumber menyebutkan bahwa pendapatan Henry saat ini lebih dari Rp 1,3 M pertahun. Hebatnya lagi, Not Before Tea adalah bisnis yang sangat peduli pada lingkungan, karena mereka menggunakan bahan organik dan menghindari penggunaan plastik.

  1. Gabrielle Jordan, 15 tahun. (Jewelz of Jordan)

Gabrielle memulai bisnis perhiasannya saat usia 9 tahun. Kini ia sudah mendirikan Excel Youth Mentoring Institute, menjabat Chief Creative Officer di Gibstr, dan menulis buku  The Making of a Young Entrepreneur. Gabrielle yang bercita-cita menjadi gemologist juga pernah menjadi pembicara di salah satu event TEDx yang bergengsi.

  1. Moziah Bridges, 12 tahun. (Mo’s Bows)

Moziah yang biasa dipanggil Mo, memulai bisnis dasi kupu-kupunya saat usia 9 tahun. Dia mengaku tidak bisa menemukan dasi kupu-kupu yang keren untuk dia pakai, hingga akhirnya dia memutuskan membuat sendiri dari kain perca sisa punya neneknya, dan beberapa dijual.
Mo pernah muncul di Shark Tank, salah satu reality show TV yang terkenal di Amerika. Tujuh bulan sejak ia tampil di acara tersebut, dikabarkan bahwa penjualan Mo’s Bows meningkat dari $55,000 ke hampir $200,000. Saat ini bisnisnya bermitra dengan FUBU-perusahaan fashion yang sudah berdiri sejak 1992-untuk proses produksinya.

https://youtu.be/Kc1ESLwXD6U

  1. Ahmed Mohamed, 14 tahun. (peneliti muda)

Ahmed, yang juga dikenal sebagai ‘clock boy‘, pernah ditangkap saat membawa jam hasil buatannya sendiri ke sekolah, karena jam elektronik yang dimasukkan ke dalam tempat pensil tersebut dikira bom oleh pihak sekolah. Kasus penangkapannya ini berujung pada meluasnya berita ke seantero Amerika, dan akhirnya membuat Mark Zuckerberg mengundang ke markas Facebook dan Presiden Barack Obama mengundang ke White House.

mark zuck

Kini, Ahmed yang bercita-cita menjadi engineer di NASA ini melanjutkan sekolahnya di Qatar setelah menerima beasiswa dari Qatar Foundation.

Dari profil lima anak di atas, kita mungkin sudah mulai harus memikirkan bagaimana menumbuhkan entrepreneurship ke dalam jiwa anak-anak kita. Entrepreneur bukan sekedar pedagang. Entrepreneur lebih dari sekedar wiraswasta. Entrepreneur juga memiliki arti lebih luas dari pebisnis. Kalau Indonesia mau memiliki 10% entrepreneur, maka berarti tanggung jawab kita semua untuk menciptakan “1 keluarga 1 entrepreneur”.

 

Membangun Kredibilitas (lewat) Blog

Sebelum Saya ngalor-ngidul, ijinkan Saya mengucapkan selamat #HariBloggerNasional untuk yang merayakannya, dua hari yang lalu! Orang-orang berbondong bikin tulisan a.k.a meng-update blognya pas #HariBloggerNasional, kalau Saya dua hari setelahnya. Aku mah gitu orangnya. 

Yah, begini-begini Saya ini blogger juga. Pernah punya blog di WordPress, dan sudah lama ditinggalkan. Dan believe it or not, blog itu jadi referensi (calon) papah mertua Saya waktu itu untuk memutuskan apakah akan menyerahkan putri sulungnya atau tidak kepada Saya untuk dipersunting. Tsah!

#HariBloggerNasional, menurut laman ini, pertama kali diresmikan oleh Menkominfo pada gelaran Pesta Blogger pertama kali tahun 2007. Empat tahun kemudian, event tersebut berubah menjadi OnOffID. Mungkin karena banyak yang mulai beralih ke platform microblogging a.k.a social media dan meninggalkan blognya bersama laba-laba, gegap gempita #HariBloggerNasional meredup. Ya mungkin juga kerana si ‘bapak blogger Indonesia’ sekarang sudah beralih profesi menjadi ‘bapak startup’. #eh

Tapi ya buat rame-rame-an aja, gak papa lah ya kita ikutan #HariBloggerNasional, toh cuma sekali setahun ini.

Di tahun ini, ada gelaran yang ngebarengin #HariBloggerNasional ,yaitu bloggercamp.ID yang diadakan di empat kota: Jakarta, Purwokerto, Surabaya, dan Makassar. Saya memutuskan untuk ikut berpartisipasi, karena rupanya darah blogger masih mengalir deras di tubuh Saya. Dan mempertimbangkan efisiensi biaya juga waktu, Saya memilih kota Purwokerto!

Dan Saya merasa bahwa pilihan Saya tidak salah.

Purwokerto, adalah satu-satunya kota yang bukan merupakan ibu kota provinsi. Meskipun sebenarnya pelaksanaan Bloggercamp.ID di Jakarta bukan di Jakarta, tapi di Bogor. Dan pelaksanaan Bloggercamp.ID Surabaya bukan di Surabaya, tapi di Pandaan!

Oiya, Saya belum bilang kalau kepesertaan Bloggercamp.ID ini melalui seleksi. Karena Saya merasa masih sebagai blogger cupu, maka peluang untuk bisa terpilih rasanya lebih besar di Purwokerto dibandingkan kota lain, apalagi Jakarta Keras!

Kalau pertimbangan tempat, sebenarnya Surabaya lebih menggiurkan karena Saya belum pernah ke Taman Dayu. Sementara lokasi di Purwokerto adalah Baturraden yang sudah bolak-balik pernah Saya kunjungi karena bapak Saya memang asli Purwokerto dan hampir tiap lebaran kami sekeluarga mudik kesana.

Tapi, tiket (KA) ke Surabaya 5x lebih mahal daripada ke Purwokerto. Nah jadilah ini alasan paling kuat untuk memilih Purwokerto. Hidup Purwokerto!!!

Insight

Sebenarnya sub-judul ‘Insight’ terasa begitu berat sih. Karena yang ingin Saya paparkan berikutnya adalah lesson learned selama acara. Event gathering seperti Bloggercamp.ID sebenarnya bukan untuk mencari ilmu teknis yang mudah didapat dengan googling dari mana saja. Di momen seperti ini, yang dicari adalah relasi & jaringan. Yang dari kenalan orang baru itu, kita bisa dapatkan ilmu baru (dan hikmah) yang justru tidak bisa didapat dari googling.

Di Purwokerto, Saya tidak hanya berkenalan dengan blogger-blogger lokal (Purwokerto, Wonosobo, Banjarnegara, Banyumas) namun ternyata juga ada dari Jakarta, Bandung, Bekasi, dan Solo. Satu kesamaan yang Saya tangkap dari para blogger ini, bahwa mereka adalah orang-orang cerdas, meskipun tidak terlalu tinggi pendidikannya. Cuma karena menulis menjadi keseharian mereka, otak mereka terasah. Karena menulis, pasti membaca.

Dan Saya punya satu hipotesis tentang memperbandingkan blogger metropolitan & blogger daerah (mereka yang memilih tinggal di kota kecil atau desa). Saya menduga bahwa blogger daerah memiliki produktivitas lebih tinggi daripada blogger metropolitan. Kenapa? Karena di daerah, para blogger ini tidak terganggu oleh kemacetan  yang membuat efisiensi waktu berkurang.

Secara keilmuan, Saya berani bertaruh bahwa blogger daerah tidak kalah dengan blogger metro. Asal sama-sama memiliki akses Internet, kesenjangan ilmu menjadi tidak relevan lagi. Ilmu yang beredar bebas di dunia maya, bisa diakses siapapun, dimanapun.

Tapi, dari hasil diskusi selama semalam bersama para blogger ini, Saya melihat bahwa blogger metro memiliki tingkat percaya diri lebih tinggi daripada blogger daerah. Blogger metro cenderung mendominasi ketika sedang terlibat diskusi dibanding blogger daerah. Kalau yang ini, mungkin karena di kota besar yang lebih heterogen menuntut penduduknya untuk bersosialisasi dengan tipe orang yang berbeda asal dan pemahamannya. Disini pengalamanlah yang lebih menentukan.

Saya sendiri sebagai blogger yang berdomisili di kota Semarang, sebenarnya bisa memiliki dua keunggulan tersebut. Kota Semarang sebagai ibu kota Jawa Tengah tentu sudah bisa dianggap kota metro yang heterogen, sehingga Saya bisa lebih banyak mengenal berbagai macam tipe orang. Di sisi lain, Semarang belum terlalu semacet Jakarta dan sekitarnya, sehingga Saya harusnya bisa lebih mengefisienkan waktu untuk mencari ilmu karena waktu tidak terbuang percuma di jalan.

Membangun Kredibilitas (lewat) Blog

Sebagai penutup tulisan Saya yang ngalor-ngidul ini, Saya cuma ingin berpesan untuk siapapun yang membaca tulisan ini, mulailah nge-blog. 

Tema bloggercamp.ID tahun ini adalah ‘Membangun Kredibilitas Blog’. Saya tidak punya kepentingan untuk membangun kredibilitas blog ini. Buat apa? Yang harus Saya bangun adalah kredibilitas diri Saya sendiri. Blog ini hanya salah satu tool. Blogging hanya salah satu caranya.

Seperti kata (Alm) Coboy Junior-karena sudah bubar-,

tak perlu tunggu hebat, untuk berani memulai apa yang kau impikan
Hanya perlu memulai, untuk menjadi hebat raih yang kau impikan

Tidak perlu tunggu kredibel untuk mulai nge-blog, tapi mulailah nge-blog dan bangun kredibilitas.

Image: capalstudent.wordpress.com