Pentingnya Menggembala Kambing Bagi Pertumbuhan Anak

Ada yang hilang dari pembelajaran seputar parenting yang selama ini Saya dapatkan dari seminar, pelatihan, buku atau konten-konten yang dibagi di Internet sehari-hari. Apa itu?
Pentingnya menggembala kambing/domba!

Setidaknya itu yang Saya alami sendiri. Selama 5 tahun terakhir ini sejak kabar kehamilan istri mengandung anak pertama, sudah lumayan banyak Saya belajar cara menjadi orang tua yang baik, baik menggunakan teori parenting modern maupun yang merujuk ke dalil agama (Al-qur’an & hadits). Tapi tidak Satupun yang menyinggung hal ini. Tunggu sampai Saya ceritakan materi kajian Siroh Nabawiyah di Masjid Affa Ulya Perumahan Graha Estetika Semarang kemarin Maghrib*.

Hampir semua muslim (khususnya yang pernah ikut Taman Pendidikan Qur’an atau pelajaran agama Islam di sekolah) tahu bahwa Muhammad SAW di usia 8 tahun ditinggal mati oleh kakek tersayang (Abdul Muthalib) dan kemudian diserahkan pengasuhannya ke pamannya (Abu Thalib).

Berbeda dengan kakeknya, paman Muhammad SAW ini tidak terlalu kaya bahkan memiliki banyak anak. Kehadiran Muhammad SAW di keluarga pamannya tentu menjadi tambahan beban. Tapi hebatnya (dengan hikmah Allah), Muhammad SAW di usia sekecil itu sudah mengerti bahwa ia harus hidup mandiri dan membantu pamannya untuk mencari penghidupan.

Apa yang Muhammad SAW lakukan? Menggembala kambing & domba milik penduduk Makkah!

[quote name=”H.R. Bukhari”]Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan dia mengembalakan kambing”. Para sahabat bertanya: “Termasuk engkau juga?” Maka Beliau menjawab: “Ya, aku pun mengembalakannya dengan upah beberapa Qiroth untuk  penduduk Makkah”.[/quote]

Kalau melihat konteks hadits ini, berarti termasuk Nabi Sulaiman AS yang kaya raya pun waktu kecilnya pernah menggembala kambing, juga tak terkecuali dengan Yesus AS. Teman-teman Nasrani yang baca tulisan ini, mohon konfirmasinya ya 🙂

[tagline]Semua nabi di masa kecilnya adalah penggembala kambing, karena nantinya mereka akan “menggembala” umat.[/tagline]

Ternyata banyak hikmah yang bisa kita petik.

Yang pertama, dengan memiliki pekerjaan sebagai penggembala kambing maka Muhammad SAW diajari tentang KEMANDIRIAN. Karena sebaik-baik harta yang dimakan adalah harta yang didapat dari kerja tangan sendiri. Itulah kenapa kita juga dilarang mengemis. Tak terkecuali untuk yang meminta-minta dengan proposal.

[quote name=”Muttafaq ‘Alaih”]Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain (mengemis) sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya.”[/quote]

Dengan Muhammad SAW tidak menggantungkan hidupnya pada siapapun, hal ini juga membawa hikmah ketika akhirnya harus menyampaikan risalah kebenaran.
Bayangkan kalau di masa kecil hidup Muhammad ditanggung oleh Abu Lahab yang juga pamannya. Ketika harus mengkoreksi orang yang menanggung hidupnya sedari kecil, tentu ada perasaan tidak enak di hati Muhammad SAW, yang kalau orang Jawa biasa menyebut dengan perkewuh.  

Hikmah kedua dari pengalaman menggembala kambing adalah belajar KESABARAN. Diceritakan oleh ust. Amin Taufiq LC yang membawakan kajian ini, bahwa menggembala kambing tidak sama dengan menggembala kerbau atau unta.
Kambing membutuhkan waktu yang lebih lama untuk makan dibandingkan kerbau, sehingga otomatis lebih lama juga waktu yang dibutuhkan untuk menggembalanya. Selain itu, kambing juga memiliki sifat mudah bercerai berai dari barisan. Sehingga dibutuhkan kesabaran yang luar biasa untuk bisa mengendalikan kambing. Tidak disebutkan berapa banyak jumlah kambing yang digembala oleh Muhammad SAW, namun gambarannya sekitar puluhan ekor.
Sementara unta adalah hewan yang cukup pintar karena ia bisa kembali kepada pemiliknya, sehingga kita dilarang untuk mengambil unta yang sedang tersesat.

[quote name=”Muttafaq’Alaih”]Dari Zaid bin Khalid al-Juhani Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Datang seorang Badui kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya bertanya kepadanya tentang apa yang ia temukan. Beliau bersabda: “Umumkan selama satu tahun, kemudian kenalilah tempatnya dan tali pengikatnya, apabila datang seseorang memberitahukan kepadamu tentangnya maka berikanlah, jika tidak maka belanjakanlah”.
Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana dengan kambing yang tersesat?’ Beliau menjawab, ‘Itu milikmu atau milik saudaramu atau milik serigala.’
Ia berkata, ‘Bagaimana dengan unta yang tersesat?’ Maka wajah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah dan bersabda, ‘Apa hubungannya denganmu? Ia membawa sepatu dan kantong airnya, ia bisa datang ke tempat air dan memakan tumbuhan.’”[/quote]

Hikmah ketiga, adanya pembelajaran untuk menjadi TAWADHU, rendah hati. Menggembala kambing adalah aktivitas luar ruang yang menutut untuk berinteraksi dengan alam. Semakin kita sering ber-tadabbur alam, maka makin sadarlah kita kedudukan kita di alam semesta yang maha besar ini, bahwa kita hanya bagian kecil darinya. Kesenangan berinteraksi dengan alam ini jugalah yang menuntun Nabi Ibrahim AS “menemukan Tuhan”.

[tagline]Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan makhluk lain.[/tagline]

Kemudian, meskipun terlihat sederhana, aktivitas menggembala kambing ternyata juga mengajarkan KEBERANIAN. Itulah hikmah selanjutnya yang bisa kita ambil.
Jangan dibayangkan menggembala kambing hanya melipir ke taman dekat rumah. Di masa itu, namanya menggembala harus mendaki gunung lewati lembah untuk bisa mendapat padang rumput yang subur. Artinya, harus berhadapan dengan risiko bertemu binatang buas. Maka pernahkah kita temukan para nabi yang ketakutan karena ancaman pembunuhan oleh yang menentangnya?

Yang terakhir, menggembala kambing mengajarkan pentingnya KASIH SAYANG dan sikap LEMAH LEMBUT kepada sesama. Maka jomblo yang lagi cari suami, pilihlah yang berprofesi sebagai penggembala. Hewan aja disayang, apalagi kamu! #Eeeaaaaa

Saat ini mulai bermunculan kesadaran untuk kembali kepada parenting nabawiyah yang diambil dari kisah para Nabi baik sebagai anak maupun orang tua. Tiga aktivitas yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk dikenalkan kepada anak-anak semakin eksis. Klub renang makin banyak, komunitas memanah bermunculan, tempat latihan berkuda pun sudah ada. Sepertinya perlu ditambahkan lagi kurikulum menggembala kambing untuk anak-anak usia SD. Setuju?

===

*) Kajian Siroh Nabawiyah di Masjid Affa Ulya yang kali ini adalah yang ke-delapan dan masih akan ada lagi kelanjutannya, insya Allah.

**) Hikmah-hikmah tadi tidak hanya penting sebagai pembentukan karakter seorang Nabi, namun juga bermanfaat bagi sifat seorang pengusaha.

 

Pengalaman Makan Terjauh

Sebenarnya judul diatas hanya sebagai kiasan saja dari apa yang Saya alami siang ini. Makan terjauh yang saya pernah alami, bukan hanya karena menunya berasal dari negara lain, tapi sebenarnya karena mahalnya harga makanannya, berasa makan langsung ke daerah Arab sana, mahal di perjalanan. Ya, mahal dan murah sebenarnya sih relatif, tapi makanan ala menu timur tengah di QAHWA memang…overpriced.
Semoga tidak mengurangi keberkahan makanan yang sudah masuk ke dalam saluran pencernaan, tapi dengan harga nasi kabsa (semacam nasi kebuli) yang 63ribuan dan syawarma (serupa kebab) yang 31ribuan, rasa yang ditawarkan sebenarnya…mengecewakan. Bumbu rempah yang jadi ciri khas makanan timur tengah kurang terasa. Kalau dibandingin sama nasi kebuli bikinan ibu mertua (yang memang keturunan Arab), nasi kabsa-nya QAHWA sih masih kalah jauh.
Well, tulisan ini tidak bermaksud menjelekan QAHWA karena ketidaksesuaian harga dan kualitasnya. Sejujurnya masih ada aspek lain juga yang mesti dipuji. Dengan mengusung tema timur tengah, desain interior yang disajikan sudah cukup mewakili, apalagi ada bagian ruangan yang hanya bergelarkan karpet; khas suasana makan seperti di rumah presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. QAHWA yang merupakan istilah asli dari ‘kopi’-minuman kopi memang berasal dari Arab- juga disajikan dengan varian yang cukup unik. Qahwa Milkshake yang rasanya mirip Cappuccino, dan Qahwa Dates yang menggabungkan kopi dan kurma adalah pilihan Saya dan istri tadi siang. Untuk nilai bolehlah dikasih 7,5.
Kalau tidak percaya tulisan ini, bolehlah coba sendiri. Siapkan saja uang Rp 100.000 untuk makan sendiri. Jangan pasang ekspektasi terlalu tinggi, karena Sayapun punya prediksi umur QAHWA tidak akan lama lagi, in my humble opinion. 🙂

Middle Man

Peringatan untuk pengusaha pemula yang mulai menemukan jalan ke berlimpahan harta. Segera ambil waktu untuk merenungi apakah jalan yang telah tertempuh telah benar-benar BENAR. Jangan sampai penyesalan yang kemudian datang karena godaan harta dan kekuasaan telah menjauhkan kita dari Tuhan dan keluarga.
Itulah inti sari yang Saya dapatkan dari menonton film ‘Middle Man’, yang terinspirasi dari kisah nyata. Cobalah menontonnya atau membaca resensinya dari Wikipedia. Sayapun tak akan mengupasnya secara detil, karena teman Saya @amrulummami lebih pakar untuk urusan itu. Kurang lebih, begini ceritanya….
Adalah Jack Harris, seorang family man yang bahagia hidup bersama istri dan dua anaknya di Texas. Ia memiliki sebuah klub malam dengan teman-teman dan pengawal setianya. Harris adalah orang yang dianugerahi kemampuan untuk menengahi sengketa yang terjadi antara dua belah pihak. Ia selalu bisa medamaikan dua pihak yang bertikai dengan win-win solution: semuanya mendapatkan apa yang diinginkan. Everyone’s happy.
Hingga suatu hari ia diminta seorang pengacara untuk menengahi konflik antara dua orang aneh (namun jenius) dengan seorang pengusaha (sekaligus mafia) Rusia. Keterlibatan Harris pada konflik ini kemudian menyeret dia masuk ke dalam kasus pembunuhan tak sengaja sekaligus industri pornografi internet, sebuah tambang emas!
Harris kaya mendadak, from zero to hero? Kekuasaan, uang berlimpah dan hadirnya wanita lain dalam rumah tangganya telah membuat Harris jauh dari keluarga dan nyaris bercerai dengan istrinya. Belum lagi kasus putra sulungnya yang ditangkap karena meretas situs sekolah. Semuanya menjadi rumit.
Beruntung, pada titik keterpurukan, Harris bangkit dan memanfaatkan talentanya dalam mengatasi masalah apapun dengan siapapun. Pada akhirnya, semua berakhir bahagia.
Keluarga adalah segalanya. Apapun yang terjadi di luar sana, jangan pernah ragu untuk kembali kepada keluarga. Karena apapun yang kita punya, dengan siapa lagi kita menikmatinya pada akhirnya?

@bijakfputranto, a family man.

#KisahSukses: Pete Cashmore aka. Mashable

Siapa yang belum penah buka Mashable.com? Atau sekedar pernah dengar namanya?

Yang mendalami seputar social media, atau berprofesi sebagai researcher on internet culture (baca: pengangguran yang hobinya internetan sepanjang hari) pasti pernah cari referensi di Mashable. Kalau sudah akrab dengan Mashable, pasti tidak lupa follow akun twitternya @Mashable, kan? Lho, koq yang muncul namanya ‘Pete Cashmore’? Who’s that man?

Ternyata, Pete Cashmore ini adalah founder dari Mashable, yang mulai mengembangkan blog profesional tersebut sejak tahun 2005, ketika berumur 19 tahun. Yang artinya, sekarang dia baru berusia 26 tahun. Seumuran kita Pete! *cuma beda rezeki aja :p* Lanjutkan membaca →

Hidup Itu Memilih

Tadi malam (akhirnya) Saya (dan istri) sempat juga nonton film “?”. Judul film yang aneh, karena sang sutradara-Hanung Bramantyo-mengaku masih belum menemukan judul yang pas, dan membiarkan penonton menentukan judulnya sendiri. Meskipun di loket pembelian tiket, tercantum judul “Tanda Tanya”, HB tetap menentukan tagline untuk film ini: “Masih Pentingkah Kita berbeda”.
Sejujurnya Kami penasaran dengan film ini, karena (seperti biasa) HB selalu menggunakan tema kontroversi dalam filmnya sebagai strategi pemasaran, setelah sebelumnya dengan film “Perempuan Berkalung Sorban” yang banyak menuai kontroversi. Namun yang juga menarik adalah film “?” dipenuhi sejumlah nama bintang yang sudah terjamin kualitasnya di perfilman Indonesia, sebut saja Reza Rahadian, Agus Kuncoro, dan Revalina S. Temat.
Mengenai isi filmnya sendiri, Saya pribadi memiliki banyak ketidaksetujuan dengan materi yang dibawakan, terlebih jika menyinggung masalah aqidah. Namun kalau Saya bahas di sini, Lanjutkan membaca →

Ayo Menghafal Al-Qur’an!

Ini sedikit lintasan Saya persis setelah bangun tidur tadi pagi. Kurang dari tiga bulan lagi, Saya akan berusia seperempat abad. Muda atau tua? Itu relatif saudara-saudara, tergantung dengan siapa dibandingkannya :p. Tapi sebenarnya yang menjadi concern Saya adalah, di usia se-tua (atau se-muda) ini, hafalan Qur’an Saya sangat kalah jauh dibandingkan dengan anak-anak kader PKS, yang banyak masih berusia di bawah 10 tahun. FYI, di milad PKS seminggu lalu yang diliput TVOne, ada sesi dimana anak-anak kader PKS unjuk aksi, ada yang menyanyi, menari, berpuisi, bahkan nge-rap! Uniknya, beberapa yang diwawancara mengaku sudah hafal Qur’an 30 juz. Awesome! Lanjutkan membaca →

#BookContent: How to get a PhD

This book I borrowed from MBA-ITB Library last Saturday using @emfajar account. I'm targeting to finish reading this book within two weeks. In order to understand the content easily, I made kind-of Mind Map from book's content.

#iTWiC: One Day with WordPress

One Day with WordPress|@ Business Room Speedy-Be Mall Lt.3A

Satu lagi kegiatan yang diadakan iTWiC (IT Telkom Web Developer Community), yaitu sesi berbagi antar anggota. Kali ini tema yang dibahas adalah tentang dasar-dasar penggunaan WordPress. Acaranya sendiri diselenggarakan dua hari, yaitu Sabtu dan Minggu-16 dan 17 April 2011-lalu. Yang berminat ikut boleh memilih salah satu diantara kedua hari itu. Saya sendiri memilih untuk ikut di hari pertama, bersama Harland Firman, Muhamad Syukron Ma ‘mun dan Fraga Tanansyah.
Yang membawakan sesi kali ini adalah Bilhasry Ramadhony, mahasiswa tingkat akhir ITT yang pernah menjabat Ketua HMIF dan Presiden BEM-jarang2 aktivis ormawa bisa suka hal2 teknis kayak gini :p. Tempatnya pun dipilih agak jauh dari kampus ITT-di pelosok Dayeuhkolot sana- yaitu Be Mall yang bertempat di jalan Naripan. Lanjutkan membaca →

#AkberBdg: Lazypreneur

Sedikit oleh-oleh dari event Akademi Berbagi Bandung (#AkberBdg) kemarin Jum’at, 15 April 2011 di ruang multimedia Comlabs ITB. Tema yang dibawakan kali ini adalah ‘lazypreneur’ oleh kang Dicky Sukmana (@dixxieland) yang juga mengklaim dirinya seorang lazypreneur.
Apa sih sebenarnya lazypreneur itu? Well, istilah tidak lazim ini sebenarnya bentukan dari lazy+entrepreneur: entreprenur yang memulai bisnis dengan melihat peluang usaha dari kemalasan orang lain. Kemalasan sendiri dipicu oleh semakin berkembang cepatnya teknologi digital. Misal, Lanjutkan membaca →

#Kultwit-Jalan Cinta Para Pejuang

Semenjak 27 Maret lalu, Saya kembali membuka lembaran-lembaran buku ‘Jalan Cinta Para Pejuang’ karya Salim A. Fillah. Buku pinjaman dari @ArqomAlifH ini memang sudah lama tak tersentuh. Terakhir, sudah lebih setahun yang lalu. Inti buku yang mengisahkan titian jalan cinta para pejuang justru malah belum terbaca.

Jalan ini, terdiri dari empat tapak: visi, gairah, nurani, dan disiplin. Menapakinya satu per satu adalah semacam SOP bagi seorang pejuang untuk menapaki jalan cintanya menuju surgaNya.

Selama menghayati halaman demi halaman, Saya selalu usahakan untuk mengkicaukan cuplikan inspiratif dengan tagar #JalanCintaParaPejuang. Bukan gambaran isi buku, namun lebih kepada suatu pemikiran yang sayang untuk dilupakan.  Supaya lebih rapi, berikut dokumentasi dari ke-20 kultwit #JalanCintaParaPejuang: Lanjutkan membaca →