Hati-hati Terjebak Pada Vanity Metrics

Pakar manajemen Peter Drucker pernah mempopulerkan satu idiom yang kemudian menjadi prinsip umum dalam manajemen bisnis: what can be measured, can be managed. Apa yang bisa diukur, maka ia bisa dikelola.

Oleh karena itu, penting bagi pebisnis untuk mengetahui indikator (metric) kinerja bisnisnya. Contoh indikator yang paling umum adalah: omset & profit.

Pada bisnis online, ada angka-angka yang lebih mudah untuk diukur dibandingkan pada bisnis offline, seperti:

  • biaya mengakuisisi pelanggan (customer acquisition cost),
  • jumlah pelanggan terdaftar (registered user),
  • jumlah kunjungan (visitor),
  • jumlah download,
  • jumlah pageview, dsb

Sayangnya, kebanyakan pebisnis online di Indonesia lebih banyak fokus pada indikator yang dinamakan vanity metrics.
Agak sulit mem-bahasaIndonesiakan-nya: indikator kesombongan. Atau juga bisa disebut ‘metriks kecantikan’ (bayangkan sebuah vanity case atau kotak alat-alat rias).
Angka-angka di vanity metrics cocok digunakan saat konferensi pers, karena akan terlihat WOW!

Vanity Metrics-pertama kali dikenalkan oleh Eric Ries dalam bukunya Lean Startup– adalah sekumpulan angka yang kelihatan cantik di atas kertas tapi tidak memberikan actionable insight. Kita tidak bisa mengambil langkah strategis bergantung pada vanity metrics.

Contoh: jumlah follower Instagram, jumlah liker Facebook Page, jumlah share konten.
Vanity Metrics biasanya bisa dimanipulasi –follower dan liker bisa dibeli- dan tidak selalu berkorelasi pada indikator yang lebih penting: jumlah pengguna aktif, customer acquisition cost, conversion rate dan tentunya omset dan profit.

Indikator2 penting ‘lawan’ dari vanity metrics inilah yang disebut real metrics, indikator sesungguhnya untuk menilai kesehatan sebuah bisnis.
Bisnis online yang fokus pada real metrics, biasanya produknya lebih baik, penggunanya lebih banyak atau jualannya lebih laris.

Selamat mengukur kinerja bisnis Anda. Fokuslah pada real and actionable metrics, jangan terjebak hanya pada vanity metrics.


Post ini pertama kali tayang di forum.kirim.email

Tentang Hosting dan Domain

Salah satu hal yang sering ditanyakan oleh banyak teman-teman pengusaha adalah:

[tagline]berapa sih biaya untuk membangun sebuah website bisnis?[/tagline]

Ok, Saya mengerti bahwa kerjaan utama seorang pengusaha adalah membesarkan bisnisnya, bukan fokus di urusan teknis membangun website. Tapi sebagai marketer utama di bisnis,seorang pengusaha minimal tahu hal-hal pokok tentang teknologi web yang juga salah satu perangkat marketing di era digital.

Basically, untuk membangun sebuah website hanya dibutuhkan 2 hal: (1) Hosting dan (2) Domain.

Hosting adalah tempat menyimpan semua file dari website. Bayangkan Anda memiliki sebuah restoran, maka Anda harus memiliki (atau menyewa) tanah dan bangunan tempat bisnis Anda dijalankan.

Sementara domain adalah alamat spesifik untuk mengakses file-file website yang diletakkan di hosting. Domain ini ibarat jalan yang membuat customer datang ke lokasi restoran Anda. Bayangkan jika Anda membangun restoran di tengah hutan belantara yang tidak ada satupun jalan akses menujunya, seperti itulah ibaratnya jika Anda tidak memiliki domain.

Tulisan yang sedang Anda baca ini adalah sebuah konten (file) yang disimpan di sebuah hosting di suatu tempat, dan Anda bisa mengaksesnya melalui domain putranto.com dengan subdomain bijak.

[tagline]apakah harus membeli domain dan hosting dari satu provider?[/tagline]

Tidak.

Domain dan hosting bisa dibeli secara terpisah. Pembelian domain berlaku per 1 tahun, sementara untuk hosting bisa berlangganan per 1 bulan. Namun beberapa provider memberikan domain gratis jika Anda berlangganan hosting selama 1 tahun.

[tagline]setelah saya memiliki hosting dan domain, apakah berarti saya sudah memiliki website?[/tagline]

Begini. Setelah Anda menyewa ruko di sebuah jalan utama di tengah kota, apakah Anda lantas langsung memiliki restoran? Tentu tidak, karena diperlukan furniture, perangkat dapur, dan sistem yang berjalan untuk bisa dikatakan bahwa Anda memiliki restoran.

Di hosting yang Anda miliki harus disimpan file-file dan dioperasikan sistem aplikasi sehingga nanti pada akhirnya menjadi sebuah website.

Kalau Anda harus mengeluarkan investasi untuk hosting dan domain, maka begitu juga dengan sistem aplikasi website Anda. Bedanya, Anda tidak harus berinvestasi dengan uang untuk membuat website.
Maksudnya? Ya, Anda bisa berinvestasi dengan waktu yang Anda miliki untuk belajar cara membuat website. Karena saat ini sangat banyak tutorial dan panduan membuat website yang bisa didapat secara gratis di Internet, khususnya Google dan Youtube.

[tagline]apakah saya tidak bisa hanya berinvestasi waktu saja untuk memiliki hosting dan domain?[/tagline]

Sangat bisa!

Anda tinggal menunggu saja sampai Anda sendiri yang memiliki perusahaan hosting, atau Anda bisa subscribe di layanan email dari provider hosting dan tunggu sampai ada promo gratis hosting dan domain. 😀

[tagline]mmm…apakah saya sebenarnya harus memiliki website untuk bisnis Saya?[/tagline]

Tidak.

Penjelasannya, insya Allah, di seri tulisan berikutnya. 🙂
Jika Anda masih memiliki pertanyaan seputar hosting & domain, atau sekedar ingin berkonsultasi tentang website dan digital marketing, sila hubungi saya melalui komen di bawah.

Teach What You Know

Tahun 2009-2012 Saya pernah jadi dosen di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Aktivitas harian seputar baca2 materi, bikin slide presentasi & mengajar di kelas.

Sebagai dosen junior, Saya lebih sering dapat mata kuliah sisa. Mata kuliah yang gak menarik, yang gak ada dosen yang mau ngajar (termasuk Saya). Tapi karna kewajiban pekerjaan, mau gak mau, ya harus dijalani.

Lama2 Saya merasa bosan dengan rutinitas ini. Semuanya seperti berjalan auto-pilot, tanpa ruh dan passion.

Tahun 2013, saya “cuti” dari mengajar secara resmi di institusi, tapi masih cerewet ‘sharing’ di socmed (waktu itu yang asyik di Twitter).

Seiring berjalan waktu, Twitter makin sepi dan temen2 makin rame ke Instagram. Praktis Saya jadi terbawa arus.

Perlahan, Facebook jadi mulai rame lagi. Ditandai dengan momen Instagram dibeli Facebook. Akun fb yang sudah mati suri, akhirnya hidup lagi.

Bosan dengan arus mainstream, tahun 2014 Saya memutuskan untuk kembali ke blog pribadi. Kebetulan domain putranto.com juga baru available sejak ditinggalkan pemilik lama.

Tren social media bisa silih berganti, tapi berkreasi di blog pribadi seperti punya rumah sendiri.

Apapun medianya, semangatnya tetap sama: bagikan yang dipelajari, ajarkan yang diketahui.


Artikel ini pertama kali di-publish di Facebook Page baru Saya.

Strategi Branding Cerdas dari Marine Layer

Pagi ini dapat takeaway dari nonton video singkat salah satu episode Marie TV di MarieForleo.com:

[tagline]3 strategi branding yang cerdas, studi kasus Marine Layer.[/tagline]

  1. Be refreshingly real.
  2. Create trust through transparency.
  3. Don’t be afraid to sell.

Harus nonton videonya (6:42) untuk dapat gambaran & insight bagaimana tiga strategi itu bisa diterapkan di bisnis.

Rencanakan Hidupmu, Juga Matimu

Buat pencinta lari seperti Saya, lari bukan sekedar pembuka hari. Melainkan semacam ritual suci yang menentukan bagaimana jam-jam berikutnya terlewati.

Ada dua jenis lari yang biasa Saya lakukan. Lari singkat, yang biasanya tidak lebih dari 3KM. Dan lari jauh yang batas bawahnya adalah 8KM. Saya agak malas lari jarak menengah antara 3-8KM karna nanggung.

Kalau lari singkat, Saya cuma perlu pakai sepatu dan ngantongin gadget buat ngukur jarak & performa pakai aplikasi Nike+ Run Club. Rute rutin sih biasanya cuma muterin Sampangan (Jl.Menoreh Raya – Jl.Lamongan Raya – Jl. Menoreh I) yang lintasannya sekitar 2,5KM.

Tapi kalau lari jauh, perlengkapannya agak lebih ribet: celana khusus, stocking panjang, uang buat beli minum, kaos dan earphone  khusus lari.
Saya punya satu celana pendek favorit yang selalu dipakai waktu event lari. Celananya biasa saja, cuma dibandingkan celana lari yang lain, yang satu ini ada kantongnya, jadi bisa dipakai buat ngantongin receh dan gadget. Saya sudah tidak pakai armband lagi semenjak iPhone hilang, dan hape yang sekarang dipakai ukurannya sedikit lebih besar dari iPhone jadi kurang pas di armband-nya iPhone.
Dan stocking panjang murah meriah buat nutupin lutut biar lebih syar’i.

Pagi ini, Minggu pagi. Saat ini semestinya Saya sudah di jalanan meletakkan kaki yang satu di depan kaki yang lain secara bergantian. Tapi semuanya berubah setelah selepas subuh tadi dapat kabar di WhatsApp bahwa satu teman angkatan semasa kuliah, RI, tadi malam meninggal. Bukan sekedar teman, tapi juga saudara seperngajian. Apalagi istrinya juga adik kelas satu jurusan yang juga lumayan karib.
Semangat lari-pun “lari” jauh entah kemana.

Sisi “drama”-nya adalah, bahwa kematiannya sudah ” direncanakan”.
Kami, teman-teman dekat almarhum yang satu group WA, sudah tahu bahwa beberapa hari terakhir RI sudah kritis karena tumor di otaknya sudah mengganas. Sudah dilakukan operasi namun tidak membawa perubahan signifikan. Dari akun WA RI yang dipegang oleh adiknya, kami selalu dapat update tiap hari. Kemarin, dikabarkan bahwa dokter sudah “menyerah” dan keluarga sudah pasrah. Sementara kami masih terus mengirimkan do’a dan harapan masih dijaga.
Tapi memang masih ada yang “menahan”. Yaitu kedatangan istri dan anak RI pulang ke tanah air. Karena istri RI bekerja di Italia dan dikabarkan akan sampai di Indonesia sekitar jam 10 tadi malam.
Hingga akhirnya, RI menghembuskan nafas terakhirnya jam 10-an juga.

[tagline]Innalillahi wa innailahi raji’un…[/tagline]

Kematian memang nasihat paling berharga. Semua apa yang kita usahakan di dunia tak ada artinya karna tak mungkin dibawa, kecuali 3 hal saja: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak shaleh.

Hidup ini seolah marathon, bukan sprint. Sejauh apapun larimu, suatu saat akan kau gantung juga sepatumu.

Mengingat mati, justru membuat hidup jadi lebih “hidup”. Jadi, mari kita merencanakan kehidupan dan mempersiapkan kematian.

Panduan Qurban

Tadi malam pemerintah yang diwakili oleh Menteri Agama sudah mengumumkan bahwa dari pemantauan yang dilakukan, dinyatakan hilal belum nampak sehingga bulan Dzulqa’dah digenapkan menjadi 30 hari. Artinya, tanggal 1 Dzulhijah jatuh pada Sabtu 3 September 2016 dan Idul Adha bertepatan dengan hari Senin 12 September 2016.

Hari ini, bertepatan dengan hari terakhir bulan Dzulqa’dah, Saya mau mengajak kaum muslimin yang membaca blog ini untuk sama-sama menggenjot semangat beramal, khususnya di 10 hari pertama bulan Dzulhijah.

[quote name=”HR. Bukhari no. 969″]Dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda, “Tidak ada amalan yang lebih mulia dari amalan yang dilakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” Para sahabat berkata, “Tidak pula bisa ditandingi dengan jihad?” “Walaupun dengan jihad. Kecuali jika seseorang keluar berjihad lalu sesuatu membahayakan diri dan hartanya lantas ia kembali dalam keadaan tidak membawa apa pun”, jawab beliau[/quote]

Salah satu dari amalan utama di 10 hari pertama bulan Dzulhijah adalah berqurban. Sayangnya meskipun Idul Adha dirayakan setiap tahun, masih banyak yang belum tahu bagaimana fiqih seputar ibadah qurban.

Bulan lalu Saya beli buku ‘Panduan Qurban’ karya Ust.Muhammad Abduh Tuasikal. Bukunya ringkas dan tidak terlalu tebal, cocok untuk muslimin urban yang sibuk dan (katanya) gak punya waktu untuk baca buku.

Saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca sebelum melaksanakan qurban nanti. Harganya juga gak mahal, sekitar Rp 25.000, bahkan Saya berani bilang ini murah banget untuk ilmu yang ‘everlasting‘.

Minggu lalu Saya bagi-bagi buku ini gratis di Facebook & Instagram, yang mau cukup bayar ongkos kirimnya saja. Sekarang, stoknya masih ada beberapa. Yang masih mau bukunya, Saya bakal kasih gratis plus ongkos kirimnya Saya yang nanggung. Gimana, asyik kan?

Caranya sederhana. Cukup beli hewan qurban melalui ACT (Aksi Cepat Tanggap) yang nantinya daging hasil sembelihan akan disalurkan ke daerah-daerah Muslimin yang minoritas, sedang dilanda konflik atau kekurangan, seperti Palestine, Suriah, Somalia, dan Indonesia timur.

[full_width_image]

qurban ACT

[/full_width_image]

Transfernya langsung ke rekening ACT ya. Jangan lupa bukti transfernya kirim ke WA Saya di 081 222 566 444 atau email bijak[at]putranto[dot]com. Nanti Saya bakal reply buat nanya kemana daging qurban akan disalurkan & kemana buku Panduan Qurban mau dikirim.

Jadi, kapan lagi bisa berqurban + dapat bonus buku gratis?

Berbagi Bahagia Dengan Berqurban

Hampir 12 tahun yang lalu, ketika pertama kalinya Saya terlibat di kepanitiaan Idul Adha, tepatnya di kampus STT Telkom (sekarang Telkom University). Meskipun saat itu diamanahi jadi Koordinator Seksi Konsumsi, di hari-H Saya lebih banyak terjun di proses “mutilasi” hewan qurban yang sudah disembelih. Saat itu juga pertama kalinya Saya mengeluarkan tabungan pribadi untuk membeli hewan qurban.

Alhamdulillah, sejak saat itu belum pernah sekalipun Saya melewatkan Idul Adha tanpa menyembelih sendiri kambing/domba yang jadi hewan qurban. Meskipun orang Indonesia lebih memilih berqurban sapi dengan alasan dagingnya lebih banyak, tapi memang setahu saya berqurban satu ekor kambing/domba lebih afdhal daripada 1/7 sapi atau 1/10 unta (pendapat Imam Nawawi).

https://www.youtube.com/watch?v=Z3ZD06f0Zgg

Kenapa harus menyembelih sendiri? Ya, karena memang menurut para ulama, pemilik hewan qurban sebaiknya menyembelih sendiri. Kalaupun tidak bisa, minimal datang menyaksikan penyembelihan hewannya. Setelah itu juga dianjurkan untuk makan sebagian dari daging hewan qurbannya. Berarti diperlukan juga waktu untuk mengolahnya menjadi makanan.

[quote name=”QS Al-Kautsar: 2″]Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.[/quote]

Lantas, bagaimana kalau sibuk? Melihat dinamika kehidupan umat Islam yang makin dinamis, mulai banyak kita dapati solusi berqurban bagi warga urban. Tidak mau ribet dalam ibadah. Cukup keluarkan uang senilai hewan qurban, lalu serahkan pengelolaannya pada lembaga yang dipercaya.

Kebetulan saat ini Saya dimintain tolong oleh rekan di ACT (Aksi Cepat Tanggap) untuk menginfokan program Global Qurban, yang menyalurkan hewan qurban ke daerah-daerah muslim yang membutuhkan baik di Indonesia maupun di luar negeri, seperti: Palestina, Suriah, Myanmar, Somalia, dll.

qurban ACT

Caranya sangat mudah,

  1. Transfer sejumlah uang sesuai dengan harga hewan qurban yang dipilih (kambing, sapi, unta, domba gaza, atau sapi gaza) langsung ke rekening ACT di nomor 004 011 999 (Bank Syariah Mandiri) an. Aksi Cepat Tanggap.
  2. Kirimkan bukti transfernya ke nomor WhatsApp 081 222 566 444 atau email bijak@putranto.com. Jangan lupa untuk cantumkan data diri & alamat, karena bukti qurban dari ACT akan dikirimkan ke alamat ahli qurban.
  3. Tunggu balasan dari Saya, karena Saya mau kasih hadiah spesial. Yaitu buku ‘Panduan Qurban’ karya Ust.Muhammad Abduh Tuasikal (pimpinan ponpes Daarush Sholihin & pengasuh web Rumaysho.com). GRATIS!

[full_width_image]ilmu sebelum amal

[/full_width_image]

So, kalau ada yang mau ditanyakan lebih lanjut silakan isi bagian comment di bawah atau kontak Saya lewat nomor atau email di atas.

Selamat berqurban!

Pentingnya Menggembala Kambing Bagi Pertumbuhan Anak

Ada yang hilang dari pembelajaran seputar parenting yang selama ini Saya dapatkan dari seminar, pelatihan, buku atau konten-konten yang dibagi di Internet sehari-hari. Apa itu?
Pentingnya menggembala kambing/domba!

Setidaknya itu yang Saya alami sendiri. Selama 5 tahun terakhir ini sejak kabar kehamilan istri mengandung anak pertama, sudah lumayan banyak Saya belajar cara menjadi orang tua yang baik, baik menggunakan teori parenting modern maupun yang merujuk ke dalil agama (Al-qur’an & hadits). Tapi tidak Satupun yang menyinggung hal ini. Tunggu sampai Saya ceritakan materi kajian Siroh Nabawiyah di Masjid Affa Ulya Perumahan Graha Estetika Semarang kemarin Maghrib*.

Hampir semua muslim (khususnya yang pernah ikut Taman Pendidikan Qur’an atau pelajaran agama Islam di sekolah) tahu bahwa Muhammad SAW di usia 8 tahun ditinggal mati oleh kakek tersayang (Abdul Muthalib) dan kemudian diserahkan pengasuhannya ke pamannya (Abu Thalib).

Berbeda dengan kakeknya, paman Muhammad SAW ini tidak terlalu kaya bahkan memiliki banyak anak. Kehadiran Muhammad SAW di keluarga pamannya tentu menjadi tambahan beban. Tapi hebatnya (dengan hikmah Allah), Muhammad SAW di usia sekecil itu sudah mengerti bahwa ia harus hidup mandiri dan membantu pamannya untuk mencari penghidupan.

Apa yang Muhammad SAW lakukan? Menggembala kambing & domba milik penduduk Makkah!

[quote name=”H.R. Bukhari”]Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan dia mengembalakan kambing”. Para sahabat bertanya: “Termasuk engkau juga?” Maka Beliau menjawab: “Ya, aku pun mengembalakannya dengan upah beberapa Qiroth untuk  penduduk Makkah”.[/quote]

Kalau melihat konteks hadits ini, berarti termasuk Nabi Sulaiman AS yang kaya raya pun waktu kecilnya pernah menggembala kambing, juga tak terkecuali dengan Yesus AS. Teman-teman Nasrani yang baca tulisan ini, mohon konfirmasinya ya 🙂

[tagline]Semua nabi di masa kecilnya adalah penggembala kambing, karena nantinya mereka akan “menggembala” umat.[/tagline]

Ternyata banyak hikmah yang bisa kita petik.

Yang pertama, dengan memiliki pekerjaan sebagai penggembala kambing maka Muhammad SAW diajari tentang KEMANDIRIAN. Karena sebaik-baik harta yang dimakan adalah harta yang didapat dari kerja tangan sendiri. Itulah kenapa kita juga dilarang mengemis. Tak terkecuali untuk yang meminta-minta dengan proposal.

[quote name=”Muttafaq ‘Alaih”]Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain (mengemis) sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya.”[/quote]

Dengan Muhammad SAW tidak menggantungkan hidupnya pada siapapun, hal ini juga membawa hikmah ketika akhirnya harus menyampaikan risalah kebenaran.
Bayangkan kalau di masa kecil hidup Muhammad ditanggung oleh Abu Lahab yang juga pamannya. Ketika harus mengkoreksi orang yang menanggung hidupnya sedari kecil, tentu ada perasaan tidak enak di hati Muhammad SAW, yang kalau orang Jawa biasa menyebut dengan perkewuh.  

Hikmah kedua dari pengalaman menggembala kambing adalah belajar KESABARAN. Diceritakan oleh ust. Amin Taufiq LC yang membawakan kajian ini, bahwa menggembala kambing tidak sama dengan menggembala kerbau atau unta.
Kambing membutuhkan waktu yang lebih lama untuk makan dibandingkan kerbau, sehingga otomatis lebih lama juga waktu yang dibutuhkan untuk menggembalanya. Selain itu, kambing juga memiliki sifat mudah bercerai berai dari barisan. Sehingga dibutuhkan kesabaran yang luar biasa untuk bisa mengendalikan kambing. Tidak disebutkan berapa banyak jumlah kambing yang digembala oleh Muhammad SAW, namun gambarannya sekitar puluhan ekor.
Sementara unta adalah hewan yang cukup pintar karena ia bisa kembali kepada pemiliknya, sehingga kita dilarang untuk mengambil unta yang sedang tersesat.

[quote name=”Muttafaq’Alaih”]Dari Zaid bin Khalid al-Juhani Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Datang seorang Badui kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya bertanya kepadanya tentang apa yang ia temukan. Beliau bersabda: “Umumkan selama satu tahun, kemudian kenalilah tempatnya dan tali pengikatnya, apabila datang seseorang memberitahukan kepadamu tentangnya maka berikanlah, jika tidak maka belanjakanlah”.
Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana dengan kambing yang tersesat?’ Beliau menjawab, ‘Itu milikmu atau milik saudaramu atau milik serigala.’
Ia berkata, ‘Bagaimana dengan unta yang tersesat?’ Maka wajah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah dan bersabda, ‘Apa hubungannya denganmu? Ia membawa sepatu dan kantong airnya, ia bisa datang ke tempat air dan memakan tumbuhan.’”[/quote]

Hikmah ketiga, adanya pembelajaran untuk menjadi TAWADHU, rendah hati. Menggembala kambing adalah aktivitas luar ruang yang menutut untuk berinteraksi dengan alam. Semakin kita sering ber-tadabbur alam, maka makin sadarlah kita kedudukan kita di alam semesta yang maha besar ini, bahwa kita hanya bagian kecil darinya. Kesenangan berinteraksi dengan alam ini jugalah yang menuntun Nabi Ibrahim AS “menemukan Tuhan”.

[tagline]Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan makhluk lain.[/tagline]

Kemudian, meskipun terlihat sederhana, aktivitas menggembala kambing ternyata juga mengajarkan KEBERANIAN. Itulah hikmah selanjutnya yang bisa kita ambil.
Jangan dibayangkan menggembala kambing hanya melipir ke taman dekat rumah. Di masa itu, namanya menggembala harus mendaki gunung lewati lembah untuk bisa mendapat padang rumput yang subur. Artinya, harus berhadapan dengan risiko bertemu binatang buas. Maka pernahkah kita temukan para nabi yang ketakutan karena ancaman pembunuhan oleh yang menentangnya?

Yang terakhir, menggembala kambing mengajarkan pentingnya KASIH SAYANG dan sikap LEMAH LEMBUT kepada sesama. Maka jomblo yang lagi cari suami, pilihlah yang berprofesi sebagai penggembala. Hewan aja disayang, apalagi kamu! #Eeeaaaaa

Saat ini mulai bermunculan kesadaran untuk kembali kepada parenting nabawiyah yang diambil dari kisah para Nabi baik sebagai anak maupun orang tua. Tiga aktivitas yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk dikenalkan kepada anak-anak semakin eksis. Klub renang makin banyak, komunitas memanah bermunculan, tempat latihan berkuda pun sudah ada. Sepertinya perlu ditambahkan lagi kurikulum menggembala kambing untuk anak-anak usia SD. Setuju?

===

*) Kajian Siroh Nabawiyah di Masjid Affa Ulya yang kali ini adalah yang ke-delapan dan masih akan ada lagi kelanjutannya, insya Allah.

**) Hikmah-hikmah tadi tidak hanya penting sebagai pembentukan karakter seorang Nabi, namun juga bermanfaat bagi sifat seorang pengusaha.

 

Sekolah Ramah Anak

Di sekolah Ziahaura & Dzunnurayn (PAUD Pelangi Nusantara), rutin diadakan pertemuan orang tua dan guru. Di acara yang biasanya diadakan rutin dua kali tiap semester ini orang tua diajak ‘sekolah’ lagi, belajar bagaimana menjadi ortu yang (lebih) baik dengan ilmu-ilmu seputar parenting yang memang harus dicari sendiri.

Kebetulan karena ummah-nya anak-anak lagi ada acara dan anak-anak juga pengen ikutan, jadinya Saya yang berangkat ke Parents Meet & Talks kemarin sore. Alhamdulillah, dapat takeaway berupa pengetahuan tentang ‘Sekolah Ramah Anak’ dari  bu Nunik (kepsek Pelangi Nusantara).

Apa sih Sekolah Ramah Anak?

Ringkasnya, sekolah ramah anak adalah sekolah yang ramah pada otak dan jantung anak.

Ramah otak artinya sekolah mengajarkan kepada anak materi yang memang sesuai dengan usia dan tahap perkembangannya. Tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat.

[tagline]Kalau memang belum waktunya belajar membaca, ya tidak perlu diajarkan membaca.[/tagline]

Sedangkan ramah jantung maksudnya sekolah memberikan kenyamanan pada anak sehingga proses belajar (sambil bermain) bisa lebih menyenangkan.

Proses belajar yang conherence akan menumbuhkan emosi positif, yang pada anak bisa merangsang keluarnya hormon baik (dopamine, endhorpine, oxytocine, dan serotonine) yang berguna untuk memperkaya pertumbuhan neokorteks.

Sebaliknya, proses belajar yang incoherence dapat menimbulkan emosi negatif, yang juga menstimulus keluarnya hormon (cortisol & adrenaline) kemudian mengaktifkan batang otak dan pada akhirnya membunuh sel-sel otak memori.

Meskipun konteksnya adalah sekolah ramah anak, namun ternyata ini bukan saja tugas guru. Peran orang tua juga sangat diperlukan. Guru dan orang tua harus bekerja sama.

Wah, berat ya?!!

Tenang, ada tips & trik agar sekolah ramah anak bisa dicapai. Intinya, kenyamanan itu bisa diusahakan. Bangun persepsi positif tentang sekolah, guru, dan teman. Sekolah adalah tempat bermain (yang dalam bermain itu anak-anak mengalami proses belajar), guru bukan monster yang harus ditakuti (hati-hati ortu yang suka nakut-nakutin anak sambil ngancem bawa-bawa nama bu guru), dan teman membuat bermain jadi lebih senang.

[quote name=”7 Years, Lukas Graham”]Once I was 7 years old, my mama told me go make yourself some FRIENDS or you’ll be LONELY.[/quote]

Kalau udah nyanyinya, kita lanjut lagi ya… :p

Kenyamanan pada anak di sekolah dimulai ketika pagi hari orang tua mempersiapkan anak-anak berangkat sekolah. Mandi dan sarapan adalah faktor yang jangan sampai dilupa. Ada perbedaan antara anak-anak yang mandi & sarapan sebelum sekolah dengan anak-anak yang melewatkannya.

[quote align=”alignright” name=”Google Philosophy”]You can be serious, without a suit.[/quote]
Di Pelangi Nusantara, memang tidak ada seragam baik untuk playgroup maupun TK. Hal ini agar anak-anak bisa mengenakan pakaian yang nyaman. Apalagi anak sedang dalam masa toilet training, sehingga diusahakan pakaian yang dipakai tidak terlalu ketat supaya lebih mudah dilepas. Anak-anak biasanya saking senangnya bermain, sampai menunda ke toilet dan tahu-tahu ketika injury time belum sempat lepas celana sudah bochor.
Kalau Saya, suka anak-anak tidak perlu pakai seragam, karena berarti anak-anak tidak diproyeksikan suatu saat bekerja menggunakan seragam. Life’s short, be an Entrepreneur!

Yang terakhir, yang perlu dipersiapkan ortu sebelum berangkat sekolah adalah bekal (snack) yang ramah anak. Sebaiknya jangan bawakan chiki (dan merk lain sejenis), permen, dan makanan ber-MSG. Di Pelangi Nusantara, makanan yang disediakan juga bukan makanan instan. Terima kasih bu Puji & bu Surya yang sudah memasak untuk anak-anak 🙂

Nah, tiba waktunya sampai di sekolah maka tugas dan tanggung jawab guru untuk menciptakan kesan (ramah) pertama pada anak-anak. Ada formula yang harus guru lakukan saat menyambut anak. Saya singkat dengan 4S: Senyum, Salam & Salim, Sapa dan Screening.

Terakhir, ketika proses belajar berlangsung yang bisa guru lakukan adalah selalu memberikan pesan yang ramah anak: pesan positif dengan pilihan diksi positif diiringi dengan intonasi positif.

Sampai disini, ada yang mau ditanyakan ayah & bunda? 🙂