Doing

Doing

Bismillah…

Ok, melanjutkan tahapan membangun habit demi satu persen lebih baik setiap hari, sampai dimana progress-nya?
Udah bikin implementation intention-nya kan? (NOTICING)
Sudah mendesain ulang ruangan, meja kerja, screen layout di HP? (WANTING)

Btw, tulisan ini adalah seri ke-4 dari #OnePercentBetterEveryday , kalau terlewat bisa baca-baca ulang di postingan tiga hari ke belakang.

Pendahuluan >> http://bijak.putranto.com/satu-persen-lebih-baik

Stage 1 (NOTICING)>> http://bijak.putranto.com/noticing

Stage 2 (WANTING)>> http://bijak.putranto.com/wanting

Semoga belum bosen ya, karena Saya masih mau lanjut untuk bahas stage nomor 3: DOING.

Quality vs. Quantity

Ada sebuah eksperimen yang dilakukan oleh seorang profesor fotografi di University of Florida, namanya Jerry Uelsmann.

Suatu waktu, prof. Jerry membagi kelas menjadi dua kelompok.
Tiap mahasiswa di kelompok 1 diminta membuat foto sebanyak-banyaknya, semakin banyak fotonya maka semakin bagus nilainya(quantity group).
Sementara tiap mahasiswa di selompok 2 hanya diminta membuat SATU foto saja, tapi pastikan itu adalah foto terbaik yang dihasilkan (quality group).

Di akhir semester, begitu semua tugas sudah dikumpulkan, dipilihlah foto TERBAIK.
Dan pemenangnya adalah yang berasal dari kelompok 1 (quantity group)!

Poinnya, sementara orang-orang di quantity group sibuk bereksperimen, membuat kesalahan, belajar tentang komposisi warna, dll yang kemudian menghasilkan foto yang sempurna, quality group baru sampai pada tahap teori tentang foto yang sempurna dan bagaimana cara mendapatkannya, dan bukannya mengasah kemampuan, mereka berakhir dengan foto yang biasa aja.

Sampai disini kita akan sampai pada kesimpulan, bahwa yang paling penting itu ya take action (DOING).
Gak peduli seberapa jelek hasilnya di awal-awal, ketika kita terus berlatih, mengevaluasi, melakukan lagi, kita akan kaget dengan hasil akhirnya.

Masalahnya hal paling berat itu biasanya adalah MEMULAI.
Maka yang harus kita pelajari selanjutnya adalah HOW TO START.

Caranya banyak, tapi trik yang sering saya pakai adalah two-minute rule yang diciptakan penulis David Allen di bukunya Getting Things Done:
“IF IT TAKES LESS THAN 2 MINUTES, THEN DO IT NOW!” Jangan nunggu, jangan nunda, jangan bikin rencana.
Misal: matiin lampu, buang sampah, dll

Nah, untuk behavior dan habit yang mau kita bangun pasti makan waktu lebih dari dua menit.
(Gak mungkin kan nulis di blog, atau home workout, atau baca buku cuma dua menit doang.)
Tapi, semua behavior atau habit bisa DIMULAI dalam waktu kurang dari dua menit.

Ada contoh bagus nih.
Seorang koreografer senior dan penari yang mayan terkenal di US sana, namanya Twyla Tharp, punya rutinitas latihan tiap pagi.
Latihannya dua jam, tapi untuk memulai latihan makan waktu gak lebih dari dua menit.
Habitnya adalah bangun tidur, jalan keluar rumah dan nyari taksi menuju tempat latihan.
Begitu dia udah di taksi, dia tahu bakal kemana dan ngapain.
Jadi dia memfokuskan semua energinya di MEMULAI.

Satu kalimat yang perlu di-ingat untuk stage DOING ini adalah:
OPTIMIZE FOR THE STARTING LINE, NOT THE FINISH LINE.

Target berat badan, pendapatan, jumlah subscriber/follower adalah sesuatu yang berada di finish line.
Kalau kita fokus mulai di start line, apa yang ada di finish line akan bisa diraih suatu saat, insya Allah.

Jadi, udah siap untuk MULAI? ?

[to be continued, insya Allah]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *