Marketing di Bisnis Tanggung Jawab Siapa?

Marketing di Bisnis Tanggung Jawab Siapa?

Salah satu tantangan terbesar yang paling banyak dihadapi sebuah bisnis, khususnya UKM adalah marketing (dan sales).
Apalagi kalau masih dalam fase memulai usaha, umur bisnis masih di bawah 2 tahun.

Konon katanya, 2 tahun adalah titik kritis dari sebuah bisnis.
Jika milestone ini bisa dilewati, maka insya Allah bisnis ini akan tetap hidup setidaknya sampai beberapa tahun ke depan.

Saya gak tahu apakah Anda percaya dengan mitos ini atau tidak.
Tapi saya sendiri mengalaminya di bisnis-bisnis saya sebelumnya.

Kenapa marketing adalah tantangan terbesar bagi UKM?

Kita tahu bahwa UKM ini memiliki sumber daya yang sangat terbatas.
Bahkan bisa dibilang sangat minimalis.

Mau pasang iklan budget-nya gak ada.
Mau pakai teknik marketing gratisan gak punya ilmunya.
Mau hire karyawan & profesional gak bisa bayar.
Pokoknya serba salah.

Susah emang jadi UKM… :p

Kalau sudah begini, akhirnya ikhtiar & tawakal sebisanya.
Mengoptimalkan semua resource yang ada.

Termasuk memberdayakan semua stakeholder dalam usaha sebagai tim marketing.

Apakah sebuah bisnis perlu divisi marketing?

Sebelum saya jawab ini, boleh saya cerita dulu ya…

Salah satu perusahaan yang menjadi role model buat saya adalah Basecamp.

Basecamp adalah sebuah perusahaan pembuat aplikasi project management dengan nama yang sama: Basecamp. Dulunya mereka bernama 37Signals.

Basecamp adalah contoh perusahaan anti-mainstream.
Mereka beroperasi secara remote sejak 1999, saat ini memiliki sekitar 50 karyawan yang tersebar di 32 kota di seluruh dunia. Meskipun memiliki kantor di Chicago, tapi karyawan boleh bekerja dari mana saja.

Basecamp memiliki 2 co-founder: Jason Fried (CEO) dan David Heinemeier Hansson(CTO).
Keduanya sudah menulis 3 buku yang juga sudah saya baca ketiga-tiganya.

Dari buku yang mereka tulis, saya tahu bahwa di Basecamp tidak ada divisi marketing.
Dan selama 20 tahun beroperasi, mereka baru merekrut Head of Marketing pada bulan Juni 2019. 

Menurut Basecamp, marketing adalah tanggung jawab semua stakeholder dalam perusahaan.
Meskipun tidak dengan porsi yang sama besar.

Mari kita sepakati dulu, bahwa marketing adalah upaya menciptakan permintaan terhadap produk/jasa yang dijual sebuah bisnis. Hanya menciptakan permintaan.

Tugas selanjutnya untuk sampai pada tahap terjadi penjualan, maka itu perannya sales.

Jadi menurut saya:
perusahaan bisa jadi membutuhkan divisi marketing untuk mengelola & mengatur KPI terkait marketing; tapi marketing adalah tanggung jawab semua stakeholder dalam perusahaan tanpa terkecuali.

Bahkan, seorang dengan posisi jabatan paling rendah pun punya tanggung jawab marketing sama halnya seorang CMO (Chief Marketing Officer), VP Marketing, Marketing Head atau apapun nama jabatannya.

Kemudian, lahirlah tantangan berikutnya…

Yaitu menanamkan mindset ini kepada semua orang yang bekerja pada perusahaan kita.

Seorang yang berada di posisi keuangan atau operasional mungkin akan berdalih:
“itukan bukan tanggung jawab saya”.

Hal ini wajar, tapi kalau saya sebagai leader dalam perusahaan, akan berusaha untuk menanamkan mindset ini ke semua karyawan-karyawan saya.

Dengan menanamkan mindset ini ke seluruh stakeholder dalam perusahaan, apakah pemilik saham atau karyawan, maka perusahaan memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan dengan perusahaan yang hanya menyerahkan tanggung jawab marketing kepada divisi/departemen marketing saja.

Begini kurang lebih kerangka berpikirnya…

Upaya marketing, sekecil apapun itu, akan secara tidak langsung bisa mengarahkan ke terjadinya penjualan.
Jika terjadi penjualan, maka ada uang masuk ke dalam kas perusahaan.
Jika ada uang dalam perusahaan, maka biaya-biaya yang muncul dalam menjalankan usaha bisa terbayar, termasuk di dalamnya komponen membayar gaji karyawan.

Jika semua karyawan mendapatkan gajinya, maka karyawan senang dan mungkin akan tetap berada dalam perusahaan menjalankan pekerjaan-pekerjaannya dan akhirnya operasional usaha tetap berjalan.
Sederhananya begitu, meskipun bukan berarti kalau karyawan mendapat gajinya maka dia tidak akan keluar.
Ini bahasan yang lain. Tapi pada intinya saya coba menyederhanakan konsepnya.

Lalu bagaimana implementasi marketing bagi karyawan yang tidak berada di divisi/departemen marketing?

Saya belum bisa cerita banyak, tapi ini yang sudah saya coba di Sajirasa, usaha catering yang sedang saya jalankan saat ini.

Kebetulan saat ini kami menggunakan Facebook Group sebagai kantor virtual.
Kami ada group Whatsapp, tapi secara formal diskusi lebih banyak dioptimalkan di group Facebook.
Insya Allah saya akan paparkan tentang ini di tulisan yang lain.

Kebijakan menggunakan group Facebook ini secara tidak langsung akan memaksa semua karyawan untuk memiliki akun Facebook. Yang tidak punya wajib bikin, yang sudah menghapus harus bikin lagi.

Nah, di profil Facebook masing-masing personel, harus menampilkan di bagian profilnya bahwa ia bekerja di Sajirasa. Secara gak langsung, orang yang mampir ke akun Facebook si karyawan ketika membaca profilnya akan menemukan Facebook Page Sajirasa.

Ini adalah satu langkah sederhana yang saya yakin bisa diterapkan di semua usaha (yang legal).
Apakah ini berpengaruh?
Saya katakan bisa berpengaruh meskipun dalam nilai yang sangat kecil sekali. Setidaknya ini salah satu bentuk ikhtiar.

Di level yang lebih tinggi, jika orang yang berada di perusahaan secara aktif menceritakan (secara positif) bagaimana perusahaan tempat ia bekerja, kebanggaannya menjadi karyawan di perusahaan tersebut, dan lain sebagainya.

Bagi business leader, membuat karyawan merasa bangga bekerja di perusahaannya adalah suatu tantangan lain yang sama beratnya dengan mendatangkan penjualan.
Apalagi kalau kelasnya masih UKM.

Sangat berbeda halnya jika level perusahaan kita sudah enterprise, bahkan unicorn. Karyawan akan dengan senang hati membangga-banggakan perusahaan tempat ia bekerja.

Kalau menurut Anda, marketing di perusahaan tanggung jawab siapa?

  1. Mantapks analisanya
    pengusaha UKM wajib tahan banting dan selalu siap belajar dan praktek keilmuannya
    Semoga selalu Berkah keilmuanya

    bigDedy

  2. Good point…
    Baru tahu ada perusahaan tanpa divisi marketing tp tetap bisa eksis…
    Boleh dicoba nih!!
    Dimasukin jadi bagian KPI tiap karyawan gitu bisa y?

    1. bisa KPI, atau yang lebih agak longgar lagi jadi poin dalam kontrak kerja aja.
      jadi tidak terlalu mengikat sampai ke angka capaiannya, tapi bisa “memaksa” karyawan untuk mau gak mau ikut usaha marketing.

  3. Kereen.. Ini salah satu hal kecil yang akan berdampak besar buat perusahaan.. Makasih buat sharingnya mas..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *