Rencanakan Hidupmu, Juga Matimu

Buat pencinta lari seperti Saya, lari bukan sekedar pembuka hari. Melainkan semacam ritual suci yang menentukan bagaimana jam-jam berikutnya terlewati.

Ada dua jenis lari yang biasa Saya lakukan. Lari singkat, yang biasanya tidak lebih dari 3KM. Dan lari jauh yang batas bawahnya adalah 8KM. Saya agak malas lari jarak menengah antara 3-8KM karna nanggung.

Kalau lari singkat, Saya cuma perlu pakai sepatu dan ngantongin gadget buat ngukur jarak & performa pakai aplikasi Nike+ Run Club. Rute rutin sih biasanya cuma muterin Sampangan (Jl.Menoreh Raya – Jl.Lamongan Raya – Jl. Menoreh I) yang lintasannya sekitar 2,5KM.

Tapi kalau lari jauh, perlengkapannya agak lebih ribet: celana khusus, stocking panjang, uang buat beli minum, kaos dan earphone  khusus lari.
Saya punya satu celana pendek favorit yang selalu dipakai waktu event lari. Celananya biasa saja, cuma dibandingkan celana lari yang lain, yang satu ini ada kantongnya, jadi bisa dipakai buat ngantongin receh dan gadget. Saya sudah tidak pakai armband lagi semenjak iPhone hilang, dan hape yang sekarang dipakai ukurannya sedikit lebih besar dari iPhone jadi kurang pas di armband-nya iPhone.
Dan stocking panjang murah meriah buat nutupin lutut biar lebih syar’i.

Pagi ini, Minggu pagi. Saat ini semestinya Saya sudah di jalanan meletakkan kaki yang satu di depan kaki yang lain secara bergantian. Tapi semuanya berubah setelah selepas subuh tadi dapat kabar di WhatsApp bahwa satu teman angkatan semasa kuliah, RI, tadi malam meninggal. Bukan sekedar teman, tapi juga saudara seperngajian. Apalagi istrinya juga adik kelas satu jurusan yang juga lumayan karib.
Semangat lari-pun “lari” jauh entah kemana.

Sisi “drama”-nya adalah, bahwa kematiannya sudah ” direncanakan”.
Kami, teman-teman dekat almarhum yang satu group WA, sudah tahu bahwa beberapa hari terakhir RI sudah kritis karena tumor di otaknya sudah mengganas. Sudah dilakukan operasi namun tidak membawa perubahan signifikan. Dari akun WA RI yang dipegang oleh adiknya, kami selalu dapat update tiap hari. Kemarin, dikabarkan bahwa dokter sudah “menyerah” dan keluarga sudah pasrah. Sementara kami masih terus mengirimkan do’a dan harapan masih dijaga.
Tapi memang masih ada yang “menahan”. Yaitu kedatangan istri dan anak RI pulang ke tanah air. Karena istri RI bekerja di Italia dan dikabarkan akan sampai di Indonesia sekitar jam 10 tadi malam.
Hingga akhirnya, RI menghembuskan nafas terakhirnya jam 10-an juga.

[tagline]Innalillahi wa innailahi raji’un…[/tagline]

Kematian memang nasihat paling berharga. Semua apa yang kita usahakan di dunia tak ada artinya karna tak mungkin dibawa, kecuali 3 hal saja: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak shaleh.

Hidup ini seolah marathon, bukan sprint. Sejauh apapun larimu, suatu saat akan kau gantung juga sepatumu.

Mengingat mati, justru membuat hidup jadi lebih “hidup”. Jadi, mari kita merencanakan kehidupan dan mempersiapkan kematian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *