Hati-hati Terjebak Pada Vanity Metrics

Pakar manajemen Peter Drucker pernah mempopulerkan satu idiom yang kemudian menjadi prinsip umum dalam manajemen bisnis: what can be measured, can be managed. Apa yang bisa diukur, maka ia bisa dikelola.

Oleh karena itu, penting bagi pebisnis untuk mengetahui indikator (metric) kinerja bisnisnya. Contoh indikator yang paling umum adalah: omset & profit.

Pada bisnis online, ada angka-angka yang lebih mudah untuk diukur dibandingkan pada bisnis offline, seperti:

  • biaya mengakuisisi pelanggan (customer acquisition cost),
  • jumlah pelanggan terdaftar (registered user),
  • jumlah kunjungan (visitor),
  • jumlah download,
  • jumlah pageview, dsb

Sayangnya, kebanyakan pebisnis online di Indonesia lebih banyak fokus pada indikator yang dinamakan vanity metrics.
Agak sulit mem-bahasaIndonesiakan-nya: indikator kesombongan. Atau juga bisa disebut ‘metriks kecantikan’ (bayangkan sebuah vanity case atau kotak alat-alat rias).
Angka-angka di vanity metrics cocok digunakan saat konferensi pers, karena akan terlihat WOW!

Vanity Metrics-pertama kali dikenalkan oleh Eric Ries dalam bukunya Lean Startup– adalah sekumpulan angka yang kelihatan cantik di atas kertas tapi tidak memberikan actionable insight. Kita tidak bisa mengambil langkah strategis bergantung pada vanity metrics.

Contoh: jumlah follower Instagram, jumlah liker Facebook Page, jumlah share konten.
Vanity Metrics biasanya bisa dimanipulasi –follower dan liker bisa dibeli- dan tidak selalu berkorelasi pada indikator yang lebih penting: jumlah pengguna aktif, customer acquisition cost, conversion rate dan tentunya omset dan profit.

Indikator2 penting ‘lawan’ dari vanity metrics inilah yang disebut real metrics, indikator sesungguhnya untuk menilai kesehatan sebuah bisnis.
Bisnis online yang fokus pada real metrics, biasanya produknya lebih baik, penggunanya lebih banyak atau jualannya lebih laris.

Selamat mengukur kinerja bisnis Anda. Fokuslah pada real and actionable metrics, jangan terjebak hanya pada vanity metrics.


Post ini pertama kali tayang di forum.kirim.email

Lean Startup

Lagi googling tentang “StartupCase”, nemu tautan ke sini. Trus, jadi penasaran, sebenarnya apa sih “Lean Startup” itu?

Lean Startup is a concept coined (and trademarked) by Eric Ries. Ries writes that lean startups are born out of the following three trends:

  1. use of free and open source software,
  2. application of agile software development methods, and
  3. ferocious customer-centric rapid iteration, as exemplified by the Customer Development process[1]. (from wikipedia)

Jadi nambah lagi nih target buku yang harus dibeli. 🙂 *Yang mau beli buku The Lean Startup (Eric Ries) bisa klik gambar di atas*

Updated: Eric Ries is also blogging here.