Komitmen Menulis 30 Hari

Komitmen Menulis 30 Hari

Bismillah…

Saya tahu dan sadar penuh, bahwa saya bukan orang yang fokus dan punya disiplin tingkat tinggi. Tapi setidaknya, saya berusaha keras untuk bisa fokus dan disiplin.

Hal ini bisa jadi karena potensi genetik saya yang (sepertinya) Intuiting, menurut teori STIFIn (Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, Insting).
Saya belum pernah melakukan tes STIFIn menggunakan alat pemindai sidik jari, tapi lebih ke mengamati ciri dan tanda dari tiap-tiap karakter potensi genetik.

Salah satu hal yang mau saya kejar dengan fokus dan disiplin adalah membangun kebiasaan menulis.
Kenapa menulis ini begitu penting, meskipun saya seorang pebisnis dan bukannya seorang penulis?

Begini, satu keahlian utama yang harus dimiliki seorang pebisnis adalah ‘jualan’. Marketer utama di sebuah perusahaan adalah pemilik bisnisnya.
Nah, di era digital seperti sekarang, jualan lebih banyak dilakukan melalui media online, menggunakan content (sesuatu yang kita unggah ke Internet, bisa berupa tulisan, gambar, video, audio, atau tautan).

Untuk bisa membuat content, maka dibutuhkan kemampuan menulis. Bikin sales letter, dengan tulisan.
Bikin gambar, video, audio/podcast juga mestinya direncanakan dengan sebuah tulisan berupa naskah atau konsep.

Selain itu, kebiasaan menulis membantu pebisnis mendapatkan clarity yang berdampak pada kejernihan dalam mengambil keputusan. Seseorang yang terbiasa menulis, biasanya ngomongnya juga clear.

Makanya kalau ada yang tanya ke saya, apa skill yang harus dimiliki seorang pebisnis di era digital?
Mulailah dengan membangun kebiasaan menulis.

Usaha.

Saya sudah mencoba banyak cara untuk konsisten menulis. Mulai dari mencari aplikasi menulis yang nyaman, sampai aplikasi menulis yang berbahaya (themostdangerouswritingapp.com).
Tapi qadarullah, kebiasaan menulis tidak semudah itu dibangun. Setidaknya dari pengalaman saya pribadi, lebih mudah membangun kebiasaan lari/olahraga secara rutin dibandingkan menulis.

Mungkin ini saatnya saya mencoba sesuatu yang dinamakan ‘partner-accountability’. Agak susah untuk diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Indonesia.

Tapi kurang lebih begini maksudnya. Patner accountability adalah membangun komitmen bersama dengan rekanan, bisa pasangan, kelompok kerja, tim bisnis atau group yang memang dibentuk untuk sama-sama melakukan hal yang sama.

Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan kesempatan bergabung ‘Zona Menulis Daring’ yang diinisiasi Nabila Ghaida Zia dan Taufik Aulia Rahmat, dua lulusan Undip yang memang sudah menjalani profesi kepenulisan.
Ada kurang lebih 200-an orang bergabung dalam group WhatsApp, yang kemudian dikelompokkan lagi ke dalam group kecil berjumlah maksimal 5 orang.

Nah group WA ‘Zona Menulis Daring’ dan kelompok kecil inilah yang akan menjadi partner saya untuk membangun ‘partner-accountability’ dalam menulis.

Komitmen.

Program membangun kebiasaan menulis di Zona Menulis Daring ini insya Allah akan dilaksanakan dalam 30 hari ke depan, dimulai 20 November sampai 20 Desember. Tiap individu diminta untuk menuliskan komitmen menulisnya.

Saya sendiri menetapkan komitmen menulis lebih dari 1000 kata per hari, setiap hari selama 30 hari tanpa putus. Tulisan 1000 kata ini bisa dalam 1 artikel, atau bisa juga dibagi dalam beberapa artikel. Tapi tidak semua artikel ini saya publikasikan. Mungkin sebagiannya saya simpan dulu untuk di-posting kapan-kapan.

Untuk bisa mencapainya, saya menggunakan beberapa aplikasi menulis, antara lain:

  • calmlywriter
  • themostdangerouswritingapp
  • google docs
  • zenpen.io
  • dsb…

Sederhana, tapi tidak mudah.

Hampir banyak hal dalam hidup itu sebenarnya sederhana dan simpel. Tapi semua hal-hal besar itu meskipun secara konsep sederhana, untuk mencapainya sangat pasti TIDAK MUDAH, bahkan mungkin terlihat mustahil di awal.

“It always seems impossible until it’s done.” ~ Nelson Mandela